Manusia Unggul: Dari Teks Hingga Kesadaran Naturalisme
—Lagi-lagi Mencoba Menjawab Pertanyaan Cepi Sabre
Oleh: M Taufan
Bagi saya kepercayaan Derrida atas teks sebagai sesuatu yang kosong tidak pernah bebas nilai sebagaimana ungkapan Nietzsche tentang kebenaran sebagai kekeliruan-kekeliruan guna menghadapi arus hidup.
Konvensi kepercayaan umat manusia atas teks sebagai pusat segala sesuatu yang oleh Derrida disebut sebagai mystical text menjadi pertanda kelemahan manusia. Oleh karenanya Derrida menjadikan teks hanya sebagai tempat kehendak berkuasa. Teks harus diamini sebagai kegiatan penafsiran, teks menjadi pengertian subjek sang pembaca. Nietzsche menyebut semua teks yang ada apapun bentuknya sebagai metafor.
Namun sekali lagi, kepercayaan bahwa sebuah teks tanpa kehadiran sesuatu didalamnya tidak bebas nilai, kekosongan didalam teks sebelum Nietzsche hendak menafsirnya juga tidak bebas nilai. Kehampaan yang ada dalam teks yang mendorong eksistensi manusia secara tidak sadar membuat Nietzsche termasuk Derrida terjebak dalam gaya metafisiknya sendiri.
Itulah mengapa saya menilai bahwa penafsiran selalu bersifat mistik. Kekeliruan-kekeliruan sebagai stigma kebenaran dalam teks selalu menyimpan kemungkinan keterbatasan manusia atas penafsiran. Atau kekeliruan-kekeliruan itu hanya dimiliki oleh eksistensi teks sebagai kodratnya?. Jika produksi teks selalu menciptakan kekeliruan maka kepada penafsiran kekeliruan juga merupakan sebuah keniscayaan.
Bagaimanapun kepercayaan dekontruksi atas teks selalu menggiurkan bagi sebuah kekuasaan, amandemen UUD 1945 tentang masa jabatan seorang presiden kemudian diragukan untuk memperpanjang masa jabatan lebih dari dua periode. Teks UUD 1945 yang nyaris dianggap suci, mendapat tantangan perubahan dari orang-orang elit yang memegang kendali negara. Tantangan perubahan itu kemudian menjadi sangat sakral.
Sebuah institusi mau tidak mau merupakan medan yang memungkinkan untuk membangkitkan kehendak berkuasa itu sebagai subtansi sosial atau sublimasi. Inilah yang dibicarakan Foucault dalam bukunya The Order Of Things.
Institusi menjadi medan konflik, sebuah kemungkinan akan keretakan. Keretakan itu justru dimulai saat orang-orang diluar arena politik mampu menjungkirbalikan kemapanan dan nilai-nilai yang ada. Bagi Foucault mereka adalah orang-orang yang terkena kegilaan tertentu, orang-orang yang menjadi wadah bagi bisikan atas suara-suara yang muncul dari batinnya sendiri, Foucault menyebutnya jiwa, sebagai sebuah senyawa fisik terdalam badan manusia, tapi saya masih meyakininya sebagai resultan pergulatan batin.
Kegilaan yang meradang dalam keadaan itu menurut Foucault juga merasuki jiwa terdalam para sastrawan, karena selalu ada dalam keadaan menentang arus hidupnya sendiri, oleh karenanya tidak salah jika para sastrawan memiliki keyakinan: penyair membangun kemandirian sebuah negara sementara para politisi mulai merusaknya.
Kehadiran teks apapun bentuknya selalu dimanfaatkan sebagai penegasan atas kekuasaan. Oleh karenanya teks yang ada memerlukan antinom. Antinom itu akan menerbitkan jurusan kebenaran manusia sebagai aktualitas.
Kepada Cepi
Dalam hal ini kemudian saya merasa tertarik untuk menjawab pertanyaan Cepi Sabre tentang keunggulan manusia dalam diskursus ubermensch Nietzsche atau insanul kamil yang menjadi konsep dalam tradisi sufisme.
Pertanyaan teman saya itu adalah seputar kekuatan manusia dalam wacana kekinian yang terbit sebagai ubermensch di satu sisi, dan insanul kamil di sisi lainnya —nampaknya Cepi menghubungkannya dengan tulisan saya sebelumnya ( Pelenyapan Diri Dalam Berkarya: Sebuah Tantangan Kemandirian dan Berusaha Menjawab Pertanyaan Cepi Sabre) dimana pada kesempatan tulisan pertama sebagaimana subtansi semua tulisan-tulisan saya yang memiliki warna tradisi tasawuf, saya selalu menghubungkan tema-tema kegilaan seorang sastrawan yang tercermin dalam wahdahul wujud hingga autokritik saya terhadap klaim Hawking dalam penguasaan akal budi sebagai penguasaan pengetahuan Tuhan.
Kemudian diskursus saya adalah, apakah setiap penarikan Tuhan ke dalam diri selalu akan berdampak pada pelemahan manusia?. Apakah kekuatan selalu menjadi negasi absolut vis a vis Ketuhanan?
Kekuatan manusia bukanlah muara dari aktualitas manusia. Tetapi sebagaimana diharapkan Cepi Sabre sendiri ia haruslah terhubung ke dalam harmonisasi hubungan antar manusia, sebagai cermin budaya barat hari ini, Cepi berkeyakinan bahwa keunggulan manusia dalam menciptakan sistem akan berdampak besar pada kedamaian manusia. Tapi saya akan segera membenarkannya, bahwa kedamaian manusia haruslah tidak terpusat pada satu daratan bernama “Barat”, tetapi aktual untuk seluruh bumi.
Jika di negara swiss hari ini rakyatnya menikmati coklat beraroma wine, toh kenapa di negara Indonesia masih banyak orang-orang kelaparan. Jika di Amerika Serikat betapa industrialisasi begitu maju hingga menyumbangkan dampak emisi karbon, kenapa setiap orang Indonesia merasakan dampak hebat dari deforestasi?, hebatnya pembangunan sistem yang mengarah pada humanisme di barat bukankah hasil dari pengerukan kekayaan alam di negara dunia ketiga?
Setiap kekuatan selalu menanamkan hegemoni. Dan tugasnya kaum intelektual di negara ketiga adalah bagaimana menumbuhkan sikap konter hegemoni. Sikap konter hegemoni itulah memerlukan diretasnya kembali jalan manusia unggul. Manusia unggul (ubermensch) perspektif post modernis (atau post westernisme), adalah penggabungan kekuatan aktual manusia dan kesadaran Ketuhanan. Ubermensch yang berpondasi pada wahdahul wujud: kesejatian seorang manusia.
Sastra dan Pembangunan Berkelanjutan
Setiap manusia bertuhan haruslah menyadari dirinya yang memiliki kesejatian berupa kekuatan dan kesadaran menyebarkan kedamaian di muka bumi. Setiap orang berlomba-lomba menjadi orang nomer satu, lalu apakah saya akan berpikir bahwa orang-orang yang gagal menggapai kedigdayaan akan saya sebut sebagai sampah?.
Ubermensch dalam konsep wahdahul wujud adalah upaya pengembangan eco-industrialisasi, eco-feminisme dan eco-teknologi. Kekuatan yang dapat mempertahankan manusia dari ancaman hidup dalam membangun teknologi dan industriliasasi tapi juga sekaligus membangun upaya pengembangan pelestarian lingkungan. Wacana ini memang bukan hal baru, tapi cukup aktual ditengah laju industrialisasi yang semakin cepat menyumbang perusakan lingkungan hidup.
Sastra dalam hal ini berkompeten dalam membangun sinergi barat dan timur —sebab kepunyaan Allah lah barat dan timur. Jika barat memiliki sejarah memukau tentang pemikiran-pemikiran paripatetik maka timurlah yang membangun unsur-unsur iluminasi. Iluminasi yang lahir ditangan seorang sufi, Suhrawardi, tentang urgensi kasih sayang terhadap lingkungan haruslah merasuki semua diskursus pemikiran barat. Begitu juga sebaliknya, umat manusia di belahan timur harus dibangunkan semangatnya untuk memasuki wacana keilmuan dunia barat.
Sastra tak pernah lepas dari kesadaran naturalistik, sebagian sajak-sajak kontemplatif Abdul Hadi WM dalam Madura, Luang Prabhang adalah pembicaraan bathin dengan sang alam. Pada kesempatan itu sastra dalam gerbang perenungannya secara das ding an sich seorang penyair membangun kebijaksanaan dalam perspektif naturalisme. Akan tetapi seperti proses meditasinya Descartes perspektif naturalisme pada akhirnya selalu berkembang pada mengadanya manusia, penyair itu sendiri. Kesadaran naturalisme tak pernah lepas dari upaya-upaya perenungan yang bersifat akali: ciri berada manusia.
Kemajuan keilmuan barat haruslah menyumbang pembangunan berkelanjutan (suistainable development) di negara-negara ketiga. Kelihatannya itu sudah terjadi, akan tetapi masih berkisar diantara kepentingan-kepentingan pembangunan industrialisasi di belahan timur dalam kerangka Konsensus Washington/liberalisasi.
Saya kira perlu diagendakan juga karya-karya sastra yang mengarah pada pembangunan karakter naturalistik di tengah hiruk-pikuk manusia terus meretas kehendak berkuasa atas dunia. Karakter yang peduli terhadap sesama, terlebih juga generasi selanjutnya.
Hanya dengan karya sastra manusia akan membiasakan diri berdialog atas semua teks yang melintas setiap waktu dalam pikirannya, dihubungkan dengan teks sastra yang selalu menerbitkan diskursus dan penafsiran, hingga akan tercipta kebudayaan literer masyarakat Indonesia.
***
Cikarang, 17 Oktober 2010