Berusaha Menjawab Pertanyaan Cepi Sabre.
Oleh: M Taufan
Tiba-tiba saja Stephen Hawking meragukan pendapatnya semula, tentang proses awal mula keberadaan alam semesta, sebagai tanda-tanda adanya Sang Pencipta. Teori Big bang yang melandasi keyakinan itu dibantah sendiri dalam buku barunya The Grand Design.
Menurut Hawking ledakan dalam Big Bang adalah ketentuan hukum gaya berat dan mekanika kuantum serta konsekwensi fisika lainnya. Kehadiran pencipta kemudian menjadi nihil.
Statement Hawking menandai hadirnya masyarakat modern yang semakin meragukan kehadiran Tuhan, meskipun sebenarnya hal ini sudah cukup usang ditemukan di dalam buku-buku ilmu pengetahuan yang sudah berjamur.
Meskipun ada pembantahan terhadap ilmu-ilmu pasti yang menyiratkan kepercayaan kepada Tuhan, ilmu-ilmu tersebut masih memiliki kegunaan dan fungsi dalam membangun teknologi. Sungguh, bagaimanapun tak pernah ada ilmu pasti yang bebas dari kepentingan dan ideologi penemunya. Namun di sini saya tak akan membahas sejauhmana misalnya teori relativitas Einstein yang memahami keterbatasan sensibilitas manusia sebagai pertanda adanya kehadiran Sang Pencipta Yang Maha Mengatur Kehidupan sebagaimana teory uncertainty Heissenberg.
Dalam tulisan ini saya hanya ingin membahas pertanyaan Cepi Sabre yang berkaitan dengan Sang Pencipta dalam kepercayaan agama yang juga hampir dinafikan dalam kehidupan sosial, sebuah pertanyaan yang, jujur, sebenarnya juga sudah cukup usang, pertanyaan yang pernah saya ajukan pada masa-masa menjadi mahasiswa, masa-masa dimana gairah eksibisi berpikir saya masih meruah dan segar, semacam zaman aufklarung, seperti ungkapan Hawking sendiri, “Kemenangan akal budi (aufklarung) manusia adalah semacam penguasaan pengetahuan kita akan pengetahuan Tuhan”, sebuah awal di mana Hawking mendaulat dirinya sebagai manusia paripurna yang hampir mendekati dirinya sebagai Tuhan itu sendiri.
Pertanyaan teman saya itu adalah apakah dengan Agama manusia menjadi baik? Selanjutnya bukankah nilai sosial ada karena adanya kesepakatan bersama?, bukan agama.
Pertanyaan keduanya tentulah mengingatkan kita pada tokoh materialisme paling kahot, Marx. Marx menyetujui falsafati Feurbach tentang posisi Tuhan sebagai antitesis, seperti layaknya ketika manusia sedang bercermin, sebagai muasal dari kelemahan manusia jaman purba sosok bayangan cermin itu kemudian dikatakan sebagai Tuhan.
Menurut saya sendiri agama tidak pernah bertanggung jawab agar pengikutnya menjadi baik. Agama hanyalah bertanggung jawab menyampaikan pada umatnya tentang isi dan keunggulan kitab yang dibawanya. Meneropong agama bukanlah dilihat dari sudut prilaku umatnya tapi agama itu sendiri: sejauhmana, kata Iqbal —penulis buku yang telah menginspirasi bangsa Pakistan untuk berdikari dari India, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam— agama dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia, dimana Tuhan justru hadir sebagai signifikansi kekuatan manusia itu sendiri.
Apakah Manusia Dapat Menjadi Baik?
Menggaris bawahi tanggung jawab agama dalam menyampaikan isi dan keunggulannya, maka isi kitab suci membawa manusia dalam penafsiran yang dialogis bukan monologis. Dalam penafsiran terhadap kitab suci, manusia bisa mengkritisi tiap-tiap ayat yang ada. Dalam hal ini agama haruslah menjadi inspirasi dalam kehidupan profan, jika tidak, seperti dikhawatirkan, agama hanya akan terpuruk di dinding-dinding sunyi tempat ibadat.
Gerakan reformasi agama dalam kristen katolik bahkan terjadi pada saat Paulus menggulirkan Vatican II, pada tahun 1970-an, sebagai usaha mendamaikan antara yang suci dan yang profan. Ini menjawab kebutuhan modernitas, bahwa persoalan-persoalan sekularisasi —kehidupan sehari-hari di luar gereja— adalah persoalan muamalah yang sebanding dengan usaha-usaha keagamaan dalam tubuh gereja dan kepausan.
Terpuruknya umat beragama seperti di Indonesia, adalah adanya jarak yang menganga antara yang suci dan yang profan. Tuhan hanya berada ditempat-tempat ibadah, seperti simbolisasi doa manusia yang menengadah ke langit. Beribadah hanya terkait pada persoalan-persoalan ritual bukan persoalan muamalah —ibadah sosial—. Dalam hal ini Rekonstruksi Pemikiran Agama yang digulirkan Iqbal adalah mencoba menarik Tuhan ke dalam diri manusia, dan menempatkan Tuhan bukan semata-mata sebagai pengawas kehidupan manusia secara pribadi, tetapi sebagai moda kekuatan manusia itu sendiri.
Agama dengan demikian harus menjadi inspirasi ilmu pengetahuan alam, dan sekularisasi. Agama harus mengatur kehidupan hajat orang banyak, yang menjadi kesepakatan. Agama juga merupakan moda singkronisasi antara kepedulian orang elite kepada orang-orang awam dan mustad ‘afin. Agama harus menjadi inspirasi gerakan manusia kepada revolusi berpikir, dan melepaskan ketertindasan. Jika tidak demikian agama haruslah dikritisi, disesuaikan dengan jamannya.
Agama memberi inspirasi
Singkatnya agama adalah abstraksi dan inspirasi dari derivasi hukum-hukum sekuler, memosisikan dirinya sebagai “yang tak berlawanan” dengan hukum hidup manusia sehari-hari. Parahnya misalnya di Indonesia ada dua golongan yang telah membuat agama menjadi terpuruk, golongan orang-orang yang menganggap kitab suci agama mereka telah mencukupi untuk mengatur kehidupan khalayak umat, yang menciptakan fanatisme dan golongan orang-orang yang menganggap teks ayat suci tidak mencukupi kebutuhan hidup manusia, melahirkan liberalisasi yang melulu mendewakan akal sebagai gerakannya.
Padahal pada dasarnya kitab suci adalah abstraksi dari hukum-hukum manusia didunia yang memerlukan derivasi.
Menindak lanjuti pertanyaan kedua bahwa nilai sosial adalah kesepakatan bersama antar manusia ketimbang agama, ternyata saya meyakini bahwa setiap kesepakatan menyimpan ketaatan dan mbalela. Artinya pada saat tertentu manusia dapat menyepakati hukum tertentu lalu tiba-tiba ia akan memberangusnya guna menempatkan hukum sosial sebagai kesesuaian berlangsungnya kehidupan manusia.
Dalam komunisme misalnya, Nietzsche —dalam Anti Kristus, Senjakala Berhala— pernah mengatakan revolusi sebagai upaya manusia menembak kekuasaan yang pada ujungnya adalah cara-cara suicide. Revolusi proletariat dalam komunisme adalah pengguliran diktatoriat baru yang akan menghasilkan konflik politik baru.
Selalu ada antitesa dari kebenaran kontemporer sebagai kesepakatan, karena pada dasarnya manusia selalu cepat berubah. Dalam setiap ketaatan pada kesepakatan akan selalu menciptakan mbalela, penyimpangan dan pemberontakan. Agama mengontrol kepribadian manusia yang cepat berubah itu. Agama juga mengontrol kemapanan nilai, agama haruslah menyepakati apa yang digulirkan Nietzsche sebagai laboratorium penilaian kembali semua nilai yang ada.
Dalam setiap kemapanan nilai yang berubah menjadi despotisme akan muncul para pembaru, setiap pembaru selalu ditilik dari bagaimana upayanya melakukan pembebasan terhadap penindasan, sekali lagi agama harus menjadi inspirasi gerakan-gerakan seperti ini. Gerakan Pink Tide oleh Hugo Chaves di Venezuala haruslah disepakati sebagai nilai-nilai agama, yang memperkuat kepribadian bangsanya untuk menggulirkan gerakan manusia. Termasuk gerakan Bolsewik, revolusi Iran dan Reformasi di Indonesia. Agama juga mengontrol kemapanan nilai yang sudah membebat pasca gerakan kemanusiaan apabila bergerak ke arah despotisme, jika tidak demikian agama memang perlu dikritisi.
Agama haruslah memenuhi segala bidang hajat hidup manusia dan Tuhan hadir sebagai pembisik pembaruan itu melalui isyarat alam semesta meliputi semesta manusia. Tuhan adalah energi dari setiap perubahan dan pembaruan.
Kehadiran Tuhan paling tidak memberi penyejuk kepada manusia modern yang cenderung ambisius dan naif. Keterlibatan Tuhan dalam kehidupan kita memberikan refresh kepada kerja otak kita yang berjibaku dalam kehidupan instan yang virtual.
sebagai manusia kita wajib berikhtiar tetapi keyakinan bahwa Tuhanlah yang akan memutuskan keberhasilan dari cita-cita ikhtiar itu: membuat kita dapat mengurangi stressing dari setiap kegagalan yang ada, meskipun seharusnya sebagai manusia bertuhan kita mesti berani mengkritisi keyakinan Thomas Alfa Edison yang menyatakan kegagalan-kegagalan sebagai pertanda keberhasilan, sebagai manusia bertuhan seharusnya kita tidak mengulangi kegagalan-kegagalan. Karena jika kita mentoleransi kegagalan-kegagalan, yang terjadi adalah karut marut bangsa Indonesia sekarang, yang membiarkan bencana banjir selalu berulang tiap tahun seperti selalu berulangnya kasus korupsi.
Mudah-mudahan Cepi dapat memahaminya. Kalau tidak ia harus kembali berfilsafat ke kajian teologis awal. Sebuah kajian yang cukup membosankan bagi saya.
***
Cikarang, 6 September 2010