Cerpen

Cinta Seorang Lelaki Sampah
Oleh: M Taufan

Sorak itu seperti ritmis yang berjalin dengan olah tubuh yang dipersembahkan sang penyanyi kepada penontonnya. Ini nyanyian yang sebenarnya. Nyanyian berwujud seribu manusia dalam Penciptanya. Dan Tuhan seolah sedang bernyanyi.

Burman pemuda itu menanti seorang penyanyi, tambatan hatinya. Sang kekasih yang sudah lama ia nanti hadir dalam hatinya.

Marsyila, janda cantik pelantun dangdut, telah merubah cara pandangnya melihat kehidupan. Marsyila telah memunculkan cinta yang unik kedalam dirinya. Cinta seolah telah menumbuhkannya menjadi manusia mandiri. Cinta telah menyihir seseorang melakukan apa saja demi apa yang diingikan sang kekasih.

Ada cerita cinta yang harus dikisahkan. Cinta selalu klise wujudnya bila harus menyandingkannya dengan perjuangan. Bila perhelatan itu berhasil ia kalahkan, maka cinta telah membuat seorang manusia, unggul, oleh karenanya memiliki kekuatan. Perjuangan akan terdengar picisan jika tak pernah memautkan kemenangan.

Burman melewati hidupnya di kota untuk mengumpulkan kekuatan. Demi cinta yang hendak ia gapai. Ini membuktikan bahwa cintanya terhadap janda itu sungguh-sungguh adanya. Aku sudah digdaya, dan akan kuangkat harkat manusiamu di tanganku, katanya dalam hati.

“kau harus yakin akan menjamin segala kehidupanku, jika kau sungguh-sungguh mencintaiku.” Kata Marsyila sebelum Burman membulatkan diri pergi merantau, mencari sesuatu yang akan membesarkan dirinya.
Bersama Kamidi pamannya akhirnya dia pergi merantau. Hidup dengan sampah daur ulang dari pabrik. Di bantaran Kali Malang ia hidup penuh keprihatinan, tapi perlahan namun pasti kehidupan itu ia raih,
“Sepuluh tahun kau akan aku tunggu, jika kau membawa cincin permata kepadaku.”

Sekarang sepuluh tahun itu sudah lewat, cincin itu sudah ada digenggamannya. Di bawah ceringin yang menjulang menghadap pertunjukan dangdut itu ia memarkirkan Jaguar-nya.

Pertunjukan itu dipadati pemuda-pemuda yang seperti dirinya dulu penuh antusias menontonnya. Dengan botol arak ditangan, mereka pasti akan mengejar ekstase nyanyian yang menanggalkan jantung otak.
Ini hiburan, hiburan yang akan membuat semua manusia melupakan kesulitan hidup. Buruh, tukang ojeg, atau pemuda pengangguran mendominasi lapangan pertunjukan. Menari ugal-ugalan bersama lelagu, mengantarkannya ke wilayah langit tanpa sadar. Melayang, bersama debu-debu yang dipaksa menari oleh kesenangan.

Ia akan menemui Marsyila di panggungnya, dan cincin permata itu akan ia sematkan bersama sawer sejumlah uang yang sudah ia persiapkan dikantong.

Ini terpaksa ia lakukan. Karena ia tak bisa menemui janda itu di rumahnya. Marsyila sedang ramai order organ tunggal dari beberapa hajatan. Atau memang Marsyila betul-betul tak mau menemuinya. Tapi Burman betul-betul mabuk kepayang. Dia akan menagih janji untuk segera menikahinya.

Tak mungkin Marsyila berubah pikiran atau melihat keadaannya sekarang. Burman seorang pemuda kaya sekarang. Burman bukan lagi seorang pemuda pengangguran seperti dulu. Marsyila pasti kagum melihat keadaannya sekarang. Dan oleh karenanya dia akan mau menerima lamarannya. Tetapi mengapa sampai saat ini Marsyila tak mau dan belum sempat menemuinya?

Penonton semakin riuh saat nama Marsyila di sebutkan. Seperti dulu meskipun umurnya sudah bertambah sepuluh tahun, Marsyila masih jadi idaman pemuda. Dan cahaya itu masuk meliuk ke muka panggung. Burman menghela nafas, melihat idaman hatinya. Rindunya semakin menggila.

Lelagu yang berasal dari hentakan sebuah electone bersama kesadaran sang pemusik telah berhasil membawa semua orang dalam satu titik kehilangan. Riuh menggelombang, jingkrak beriak-riak, teriakan memekakan menembus awan terik bersama matahari salang. Semua sudah ditakdirkan. Gelombang sudah dialirkan melalui corong waktu, berpendar pada sebuah speaker, Marsyila sudah hadir sebagai utusan kekuasaan langit.

Sementara disini Burman menggelegar cemas ingin menembus kehilangan menuju cinta yang sudah di dendangkan.
***

Aku tak mungkin mencintainya, mencintainya sama saja aku telah mencintai anakku sendiri. Marsyila dalam hatinya. Mobil buntung yang ditumpanginya memuat satu electone dan sebuah gitar listrik, bergerak menuju jantung pertunjukan.

Kemarin Burman hendak menemuinya di sebuah acara pernikahan, dimana pemilik acara mengundang Marsyila bernyanyi. Janda ini menghindar. Saat wajahnya di pulas eye shadow, bedak dan gincu pada bibirnya.

“Aku sedang sibuk, bilang sama dia. Aku tak mungkin menemuinya, sekarang!.” Seru Marsyila pada Gafar pemain gitar listrik. “Kasihan lo Mbak, dari kemarin ia cari-cari Mbak terus….”

“Nanti saja. Sedang tanggung, bilang saja tunggu di kedai makan depan rumah ini, selesai acara aku akan menemuinya.” Sementara seorang pemulas wajah terus mendandani Marsyila, tanpa menghiraukan kegusaran Gafar yang selalu diberi tanggung jawab untuk menghalangi pertemuan Burman dengan janda itu.

Saat itu Burman dengan gontai meninggalkan rumah tempat Marsyila di dandani dan memasuki sebuah kedai. Ia menanti dengan setia, sampai pertunjukan usai.

Tapi Marsyila tak juga kunjung datang. Ratapannya menyatu bersama asap kretek yang disesapnya berbatang-batang.
Sementara Marsyila sudah berlalu bersama mobil buntungnya pada pertunjukan yang lain.

“Mengapa sih mbak, kamu tak mau menemuinya?. Kasihan, dari kemarin dia cari-cari mbak terus.” Gafar membuka perbincangan di atas mobil. Tapi Marsyila malah kosong. Tatapannya hanya diarahkan pada benteng pabrik tekstil yang membentang hingga 3 KM. Di balik benteng itulah para penggemarnya hidup bekerja sebagai buruh kontrak.

Sudah sepuluh tahun pabrik itu berdiri di kampung ini. Tapi belum juga membawa perubahan terhadap penduduk kampungnya. Apalagi sebagian besar buruhnya, hidup dalam bayang-bayang perjanjian kontrak. Jalan yang melintas di pabrik itu saja masih berbatu dan berlubang.

Dulu Kepala Desa pernah menanggap Marsyila saat meresmikan pabrik itu. Dia pernah bilang bahwa berdirinya pabrik ini seperti kemeriahan acara organ tunggal, adalah pertanda kemajuan kampung. tapi seperti sudah di lihat Marsyila, kemajuan itu belum juga terlihat, apa memang dengan dirinya sering tampil di beberapa acara yang digelar oleh kantor desa atau pemerintah setempat, adalah kedok bagi pembuktian kinerja pemerintah yang dikatakan sudah berhasil?. Atau sekedar menjadikan organ tunggal alat untuk meninabobokan kesulitan hidup jelata?.

Mematikan pikiran mereka yang gelisah atas hidup yang semakin sulit?.
Ekspansi industrialisasi ke desa telah membuat masyarakat desa terpinggirkan, karena nyatanya justru banyak para perantau yang dipilih menjadi pekerja di pabrik itu, dan seperti halnya Burman, pada akhirnya penduduk kampung memilih pergi ke kota dari pada bertahan hidup di desa. Burman adalah salah satu contoh manusia urban yang berhasil hidup di kota, selebih mereka merana tinggal di sana.

Di ujung benteng pabrik sekelompok ojek menghiba-hiba Marsyila. Mereka sudah sangat mengenal mobil itu.
“Marsyila, janda montok!.”
“bahenol.”

Marsyila hanya menelan ludah jika direndahkan seperti itu. tetapi toh wajar, tarian eksotis yang selalu ditampilkannya telah membuat orang-orang berpikir negatif padanya.

Coba kalau dia memutuskan menikah. Maka tak akan ada lagi citra negatif itu . Setidaknya ia akan dihargai sebagai istri orang. Sebulan yang lalu seorang duda berniat melamarnya. Tapi Marsyila menolaknya. Ia seorang Sekretaris Camat. Waktu dia hendak melamarnya, Duda itu malah mengarahkan pandangan gasang pada anak gadisnya yang masih remaja. Maka dia tolak mentah-mentah lamarannya.

Itulah kekhawatirannya pula terhadap Burman. Lelaki muda itu pastilah memendam gejolak berahi. Dan Marsyila semakin tak percaya pada cinta. Ia hanya mencintai kedua anak gadisnya. Sudah 15 tahun mereka ditinggal bapaknya, pergi memilih wanita idaman lain.

Burman khawatir akan tertarik pada anakku sendiri. Setelah aku semakin tua dan tak dapat memuaskan berahinya. Jaman sekarang seperti banyak diberitakan di televisi, bapak kandung saja tega menggagahi anak gadisnya, apalagi bapak tiri? Muda pula.

Tapi teringat pula dalam benaknya, betapa Burman adalah seorang lelaki diantara sekian lelaki yang tergila-gila padanya. Jujur saja, Marsyila takjub dengan Pemuda itu, cintanya telah mampu membuatnya menjadi seorang lelaki tangguh.

Tersiar kabar, pemuda itu hidup dari limbah-limbah pabrik di kota. Membelinya dan menampungnya di gubuk bedeng triplek yang kumuh. Burman dapat menjual limbah itu ke pabrik lain dengan harga tiga kali lipatnya. Sepuluh tahun bergelut dengan sampah Burman sudah berhasil menjadi lelaki kaya raya.

Tapi cinta bagaimanapun akan menemui turunan saat ia berhasil menjamah puncaknya. Ia tak percaya pada cinta abadi. Baginya cinta tak lebih dari refleksi kekuasaan semata. Seperti suaminya yang telah tega meninggalkannya karena kepincut gadis muda. Betapa cinta adalah upaya penguasaan atas manusia lainnya, sementara yang lain harus berserah diri. Cinta tak pernah adil, baginya.

Apa yang dikenangnya terlintas, saat mobilnya melalui tikungan jalan. Ia teringat pada Burman saat ia menyanggupi agar menjadi lelaki kaya sebelum dapat menikahinya. Lelaki polos itu kemudian menyanggupi. Tawa Marsyila, menyertai kepergian pemuda itu: memangnya mudah menaklukan kehidupan!. Seru marsyila.

Tapi kemudian semua yang diyakininya juntai. Burman ternyata mampu menaklukan kehidupan.

Dan apakah ia akan mampu menaklukannya pula?. Entahlah, sudah berkali-kali ia berkelit dari pemuda itu, untuk tidak menemuinya.
Mobilnya sudah sampai pada tempat tujuan. Terdengar sayup-sayup suara seorang kepala desa bergetar pada speaker:

“Saya sebagai utusan masyarakat, mempersilahkan semua warga untuk menikmati sajian ini, untuk mensyukuri terpilihnya kembali saya dapat memimpin desa ini selama lima tahun ke depan. Terima kasih atas kepercayaannya kepada saya dapat memikul tanggung jawab ini.”

Tepuk tangan pun riuh menggema di lapangan. Marsyila kemudian menguasai Panggung, bersama gafar gitaris dan Lukito pemain Organ. Sementara para pamong duduk rapi di tenda, mendapat tempat kehormatan.
***

Lelagupun riuh terdengar ditelinga bersama jingkrak para penonton. Burman bersiap-siap menembus barikade itu.

Dari kejauhan Marsyila mengetahui gerak-gerik Burman. Lelaki itu akan menjangkau panggungnya. Tapi Marsyila tak mau itu terjadi. Apa yang akan dilakukan Burman, Marsyila tak mengetahuinya pasti, yang jelas sampai saat ini marsyila belum mau menemuinya.

Penguasaan atas panggung dan musik membuat Marsyila menguasai keadaan. Dia akan membuat seluruh penonton berjingkrak hebat, dengan ritme yang cepat.

“Ayo joged. Lebih gila lagi. aku persembahkan kepada kalian, Kucing Garong.”

Teng…teng….teng…tet..teet… tet… tetet. Dangdutpun semakin gila. Jingkrak segerombolan pemuda semakin tak terkontrol.
Sementara Burman terus berjuang diantara keramaian itu. Mengikuti ritmis lagu dan jingkrak. Sedikit demi sedikit Burman berada dijantung ekstase. Sikutnya mulai membabi buta menghela jingkrak yang sudah semakin meradang. Satu persatu pemuda ia jatuhkan. Jerit para ibu-ibu rumah tangga dan anak perawan mulai menggema.

Marsyila terus meracau bersama getar speaker. Menguasai keadaan berupaya menghadang Burman. Semakin gila goyangnya semakin gila penonton berjingkrak. Tapi cinta ada di runcing sikut Burman satu persatu pemuda dia jatuhkan.

“Marsyila, ini Aku…!.” Teriak Burman. Tapi sebelum mencapai panggung semua penonton sudah mulai meledak terkena sikutan Burman.
“Anjing!.”
“Goblok!.”
“Setan!.”
Mereka mulai menyerang Burman. Seorang pemuda melemparkan botol dengan penuh nafsu. Burman mengelak, botol itu mengenai orang lain yang ada dibelakangnya. “Asu!.” Maka saling serang terjadi diantara penonton. Meninju, menyikut, menendang pada siapa saja.

“Dor!.” Seorang petugas polisi menembakan pistolnya ke udara. Tapi kekacauan terus berlangsung. Burman hilang ditelan kerumunan. Marsyila menghentikan nyanyiannya. Satu persatu dilihatnya korban terinjak-injak keluar dari kekacauan itu, ditandu menuju ambulan yang meraung di sisi lapangan.

Mobil huruhara datang. Mobil patroli polisi datang. Mobil kavaleri datang. Pemadam kebakaran datang. Anehnya kemudian kekacauan berlangsung antara kubu aparat keamanan dengan warga. Dan akhirnya penyebab kerusuhan akhirnya digusur. Bukan Marsyila si penguasa panggung, Tapi mereka yang berjibaku di lapangan.

Kemana Burman?. Entahlah. Bisa jadi dia dibawa ambulan atau polisi. Tapi sudah lama jaguar-nya pun menghilang dikaki ceringin.
Dengan luka-luka memar diwajah dan tubuhnya ia hendak mendatangi Marsyila yang sudah lebih dulu beringsut dari keramaian itu. Aku akan meminta pertanggung jawaban, aku akan memaksanya mau menikah denganku. Bukankah dia sudah berjanji kepadaku dulu?.

Malam pun merayap. Marsyila mendekap kedua anak gadisnya. Pertunjukan telah usai. Tapi pertunjukannya dengan Burman baru dimulai. Di luar Burman masih saja mengintai Marsyila, menunggu saat-saat pertemuan akan di lewatkan.

“Aku tak mungkin mencintaimu Burman, mencintaimu sama saja dengan mencintai anak bujangku sendiri.”
***

Cikarang, 31 Januari 2010

Juara II kategori umum
Lomba menulis cerpen Quantum Literiti Center (QLC)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s