Kisah Orang-orang Pinggiran*
Sengaja aku ambil cuti selama empat hari. Selain ingin mengendurkan urat syarafku menghadapi segala keruwetan tugas kantor, aku ingin belajar riset untuk bahan menulis sebuah karya.
Maka aku pilih kampung istriku, Talaga. Kampung yang masih asri itu cukup memberi kenyamanan untuk refresh.
Hari ke-1
Ditengah gerimis, saat anak-anak bertelanjang dada, bersukaria dengan pucuk-pucuk kuarsa langit, aku menulis disebuah saung beratapkan ilalang:
Si Diman, keponakanku, penderita polidaktili, seolah tidak pernah peduli dengan jumlah jemarinya yang enam. Orang-orang kampung tahu, bahwa polidaktili itu penyakit kutukan. Bapaknya sering judi sabung ayam, saat ia masih dalam kandungan. Disimbolkan dengan jemari ayam yang tak beraturan dan bertonjolan, kelahiran Diman dengan jumlah jemari yang tidak biasanya, adalah akibat dari dosa sang Bapak.
Sekarang dia sedang berlari-lari di pematang sawah yang tanahnya mati suri selama musim kemarau, kini remah oleh hujan. Lincah sekali dia membawa bola. Layaknya seperti pemain professional.
Pekikan dan tawa deras membuncah dimulut anak-anak itu ketika Diman terjatuh karena tak dapat menahan keseimbangan dari tanah yang ia pijak untuk berlari. Tapi tak lama ia berhasil menggolkan bola ke gawang lawan.
Sekilas permainan bola anak-anak ini seperti upacara menyambut hujan. Sudah lama hujan tak menumbuhkan padi-padi mereka untuk dijadikan sekedar tempat bergantung hidup. Maka seketika hujan turun, riuh anak-anak menyambutnya dengan suka cita.
“Besok Bapakku akan pulang!.” Seru Diman kepadaku setelah selesai berjibaku dengan hujan dan lumpur.
“Loh dari mana tahu Bapakmu akan pulang?.” Tanyaku padanya.
“Kalau hujan turun, bapak akan tinggal di Kampung, bantu Abah garap sawah,” Air dan lumpur bersatu di tubuhnya.
Aku merasakan bahkan yang berbicara itu hujan dan tanah. Hujan dan tanah mengabarkan bahwa ketika mereka bersatu, ada harapan anak-anak desa akan menemukan bapak-bapaknya yang kembali dari kota. Seperti ketika hujan bertemu dengan retak-retak tanah.
Sawah tadah hujan memang telah membuat hampir semua bapak di kampung merantau ke kota. Berubahnya fungsi lahan menjadi tanah kosong selama musim panas, tak menerbitkan huruf-huruf kehidupan ditiap jengkalnya.
Tidak terkecuali bapaknya Diman, ia pergi berjualan pakaian loak. Itu lebih baik dari pada meneruskan kebiasaan sabung ayam yang ditentang syariat.
“Ibumu, bagaimana?.” tanyaku, “apa ia hendak pulang juga dari Arab.?”
“Ibu pulang tahun depan, bawa uang banyak, dan ibu akan menyuruh bapak tinggal saja didesa, garap sawah dengan Abah. Buat apa Bapak pergi jauh-jauh ke kota, jika nanti kami sudah punya banyak uang.” Jawab Diman sambil mengusap-usap raut mukanya yang bulus oleh air hujan.
Selain ditinggal Sang Ayah, Diman dipeluk mesra oleh kesepian ditinggal Sang Ibu. Ibunya gerah melihat usaha suaminya di kampung, hanya mengandalkan sabung ayam dan sawah tadah hujan.
Ia tergiur keberhasilan para istri tetangga, sukses setelah hidup di Arab menjadi TKW. Tapi entahlah langit memuat kabar ambigu di kemendungan. Kabar Sang Ibu tidak jelas. Apa dia hidup bahagia di Arab atau sebaliknya?.
Tapi Diman tak pernah kecil hati. Ia merasakan kehilangan kedua orang tuanya hanya sementara untuk membawa kebahagiaan.
Hari ke-2
Di kebiasan pagi, saat cangkiang diselimuti kabut hitam, aku menulis:
Sujatma, Ayah dari istriku bersemangat membajak sawah, menanam gamak-gamak padi di bentangan tanah merah yang remah oleh hujan kemarin. Diberilah ornamen oleh gebalau dan lenguh kerbau.
Mataku berpijar menghadap ramai para petani menggarap tanah, seperti alap-alap aku menyeringai dengan pena-pena tajamku di jemari.
Seorang lelaki paruh baya menyeringai di galangan. Aku kenal dia. Dia kakak ipar istriku.
“Bah, sebentar bisa bicara?!.” Seringainya.
Yang di panggil bersijingkat menaiki galangan, dan berjalan memutar menuju arah yang memanggil.
“Ada apa, Jang?,” tanya Sujatma.
“Maaf seharusnya tanah ini tidak digarap lagi.” Ketus Iparku.
“Loh, kenapa?”
“Tosyar, kemarin sudah jual tanah ini, ke saya.”
“Tosyar?, apa alasannya?!.”, Sujatma galau, cangkul di gantung di pundak. Dan beringsut kearah saung. Sementara aku masih mengawasi di sebaris cangkiang, tak jauh dari saung, terus mengawasi fragmen menarik ini.
“Saya tidak tahu alasannya.” Jelas iparku. Kemudian ia menyesap sebatang rokok.
“berapa Tosyar jual tanah ini?.” Sujatma kembali bertanya dengan nyinyir.
Kemudian Iparku menjawab dengan sederet angka.
“Anjing!, semurah itu?, Anak durhaka!.” Murka Sujatma. “kalau hilang tanah ini, mana bisa aku kasih makan anaknya!.”
Kawanan bebek melintas diantara pembicaraan mereka. Berpuluh-puluh mata petani mengawasi kepedihan yang menggurat di kening Sujatma.
“Garap saja, Bah, kalau mau!, ambil saja bagian untuk Si Diman, barang segantang-dua gantang, sisanya mau…”
Suara iparku ditimpa koak bebek.
“Anjing!, mana bisa kalau tak jual padi?. Apa Si Diman harus berhenti sekolah?!”. Sujatma geram. Ia hendak menghantam iparku dengan cangkul. Beruntung para petani melerai. Termasuk aku. Pada fragmen ini aku berhenti menulis, gamang melihat keributan itu.
Iparku kemudian beringsut kearah mobilnya dan memacu kendaraan dengan bising. Asap knalpot berpadu padan dengan kabut segar.
Istriku yang menawan dapat menenangkan mertua. Di ruang lengang rumah kampung kami, bapak menyangga peluh kepalanya dengan galau, lagi-lagi istriku terus mendesaknya sekedar istigfar.
Ada mata nanar mengawasi. Si Diman dengan gontai berjalan kearah kakeknya. Ada keprihatinan dalam riam pandangannya. Jika Diman telah dewasa ia akan meminta maaf karena perlakuan ayahnya telah membuat kakeknya geram. Tapi apa yang bisa dikatakan bocah sekecil itu.
“Minggir anak ayam!, semuanya ini ulah bapakmu!.” Teriak kakeknya kepada Diman.
Diman pergi menjauh, kemudian ia pamit mencium tanganku untuk bersekolah.
Aku beri dia uang, sekadar cukup buat jajan. Jemarinya yang berjumlah enam mengambil uang itu dengan lembut. Kemudian menghilang di balik pintu.
Iparku adalah orang kota pensiunan PLN. Ia pernah berikrar kalau dengan uang pensiunannya ia akan membeli semua tanah di desa. Aku senang mendengar itu, karena tanah-tanah dahulu yang pernah di miliki leluhurnya dan mertuaku akan kembali ketangan keluarga kami, setelah bertahun-tahun lamanya dikuasai oleh orang-orang diluar silsilah keluarga kami.
Tapi perangainya mulai kelihatan buruk, ia tak mau berbagi keuntungan dengan petani penggarap secara adil. Seperti tanah yang sudah ia beli lebih dulu. Para petani hanya diberi hasil panen cukup buat makan saja.
“Dimana kang Tosyar bertemu Kang Buyak untuk menjual tanah bapak?,” tanya istriku, sambil menyiapkan teh hangat di meja makan tempat kami akan melangsungkan perbincangan.
“Pasti di kota.” Jawab mertuaku.
“mereka bertemu di kota?.” Tanya istriku.
“Mungkin, yang jelas Si Buyak tadi memperlihatkan bukti pembeliannya.” Jelas Mertuaku.
Aku tecenung, dan ambil ancang-ancang untuk bicara. “Masih ada tanah sawah yang di tonggoh, kan Pak?”
“Sudah di jual, ditukar dengan televisi dan parabola punya Pak Kades.” Jawab Sujatma.
“Haaaah”, istriku heran.
“Ya, Ampun, kalau itu, bapak kan bisa minta ke aku, ga usah jual-jual tanah segala….” Lanjut istriku.
“Bapak kesal hujan tak juga turun, dari pada tak pasti, sudah dijual saja tanah itu. Tadinya televisi untuk hiburan. Untuk cari makan masih ada tanah sisa di landeuh.”
Senyap. Perbincangan yang mulai memanas disegarkan oleh kucuran teh yang berceruluk di lubang ceret. Kami bertiga tepekur, mencari kemungkinan solusi yang bisa menyelesaikan masalah. Tapi nihil untuk sementara ini.
Hari ke-3
Pada renyai hujan dan gelegar petir aku masih terus menulis tentang kisah-kisah orang-orang pinggiran, keluh kesahnya cukup jelas di telinga:
Pintu rumah kayu kami diketuk seseorang berjubah kuyup. Diman membuka pintu, ada lesung kegembiraan dipipi tebalnya. Bapaknya Tosyar pulang.
Berbeda dengan Diman, Sujatma geram kedatangan anaknya. Ia langsung mengahambur keluar dengan murka didalam darahnya.
“Hai, tak sudi aku kedatangan anak durhaka!.” Murkanya.
Tosyar mundur beberapa langkah. Sementara Diman terpental kesudut ruangan. Aku menggendongnya. Dan segera menyuruhnya masuk ke kamar.
Kemudian entah kemasukan syetan apa Sujatma menerjang Tosyar dengan kibasan golok. Aku terpaksa beringsut dikeramaian itu, dan berusaha menenangkan.
“Istigfar, Pak, kita tanya dulu mengapa…”.
Tapi Sujatma terlanjur murka. Dan kembali menerjang Tosyar. Istriku histeris meminta pertolongan. Tetangga segera berkerumun ke rumah kami. Beruntung tak ada kibasan golok mengenai tubuh Tosyar.
“aku tak sudi anak itu disini!”
“Pergi!”
“tanah warisan kau jual sebelum aku mati….”
Pekik mertuaku.
Aku terpaksa membawa jauh Tosyar dari rumah. Menyembunyikannya di sebuah gubuk. Aku menyarankan agar dia jangan dulu bertandang ke rumah. Karena hari beranjak larut, dia berinisiatif untuk bermalam di dalam gubuk. Entah gubuk galangan punya siapa.
“Aku terpaksa menjual tanah itu, Mang….” Tosyar, iparku membuka perbincangan. Suaranya parau memecah kedinginan.
“Modalku habis.” Lanjutnya.
“Tapi Akang harusnya hubungi Ceuceu di Arab, barangkali hasil keringatnya bisa bantu Akang usaha.” Kataku.
“itulah, Mang, kemarin aku dapat kabar dari dia”
Kuputus perkataanya, sekedar menampakkan aksen senang mendengar kabar ipar perempuanku dari Arab.
“Syukurlah…”
“dengar dulu, Istriku menyuruhku melupakkannya dan menikah lagi, karena dia sudah berselingkuh dan hendak menikah dengan lelaki TKI asal Tasikmalaya!” jelasnya.
“Astagfirullah!”. Aku terkejut.
“Dia juga tidak mengatakan akan mengirimkan uangnya!.” Seru iparku.
Desir angin menguliti seluruh tubuh kami, semua pandangan kami berdestar pekat kabut dari bebukit yang berundak-undak menuju gunung.
“tapi bukankah dengan menjual tanah sawah dengan murah, kehidupan keluarga kita kedepan jadi suram?.” Tanyaku.
Tosyar menyulut kretek lembap dari sakunya. Kemudian parau suaranya dicacah-cacah kerotak hawa dingin yang menggila di tubuh.
“Aku terlibat hutang rentenir, usahaku habis, aku terpaksa menjual murah tanah Bapak, karena tanah itu bagian warisku”. Jawabnya.
“Bapak pernah bilang, kalau itu tanah warisan Akang?”
“semua anak lelaki sudah kebagian. Akrul kebagian sebagian tanah di tonggoh, sudah dijual untuk menyekolahkan anaknya, sementara Abing mendapatkan sebagian tanah yang di landeuh, itu juga sudah di jual untuk biaya menikah. Istrimu dan kakak perempuannya sudah dipatok untuk mengurus rumah Bapak. Dan aku… meminta bagian tanah sisa yang di landeuh.”
“Aku kepepet, dan menjual tanah itu pada Buyak dengan harga murah.”
Kami kemudian terdiam, hawa dingin terlampau menguasai perbincangan kami. Tosyar kemudian rebahan di bale-bale gubuk itu, entahlah apakah dia bisa terlelap dengan hawa menusuk sedingin itu?. Dan aku kembali ke rumah. Dengan lampu genggam di tangan, sehingga aku dapat menguasai jalanan dengan gontai.
Hari ke-4
Liburanku segera berakhir, karena cutiku hampir habis. Langit berhiaskan selumbar fajar yang kuning membahana. Aku segera beranjak untuk pulang ke kota. Saat aku datangi gubuk dimana Tosyar bermalam, iparku itu sudah tak ada lagi di tempatnya, entah kemana.
Semua fragmen sandiwara kehidupan di kampung sudah aku rekam dalam sebuah kertas. Semoga ini menjadi naskah tulisan yang dapat dibaca para elit di kota. Naskah yang memuat kabar penderitaan orang-orang pinggiran.
Aku bukan penulis kisah inspiratif yang baik. Inspirasi positif tidak akan didapat dari gurat-gurat kisah yang menjerit. Didalamnya mengandung ketidakpastian hidup. Karena cerita orang-orang pinggiran selalu tragis.
Inilah alasan aku menulis, aku ingin menulis penderitaan orang-orang yang dilupakan sejarah. Orang-orang yang dipinggirkan para elit di kota. Tapi apakah dengan aku menulis, lalu bertambahlah orang yang peduli pada ketertindasan setelah membaca karya minus ini?.
Atau aku telah mengekploitasi kemiskinan, untuk membangun naskah ini demi sebuah lomba atau honor menulis disalah satu media?
Ah, aku berharap para pembaca bukan sekedar memberi pengertian, tapi aksi, aksi memikirkan bagaimana kemiskinan di desa berkurang sehingga tak ada lagi kisah tragis: anak-anak yang ditinggal ibunya ke Arab, para suami yang gamang ketika kemarau meradang, dsb, dsb.
Aku yakin dengan gemburnya tanah, suburnya tetumbuhan di desa, hijaunya hutan adalah modal kehidupan orang desa bisa sejahtera. Persoalannya seberapa banyak para intelektual memikirkan penderitaan ini?. Seberapa banyak para intelektual peduli…
Aku menyetop sebuah elf. Jalanan masih basah oleh sisa air hujan. Diman mengantar kami sampai ujung jalan raya. Dalam pandangannya aku melihat ada keinginan untuk ikut serta. Tapi kami tak mungkin membawanya. Sekolahnya baru selesai tahun depan, di samping bapak mertuaku melarangnya. Meskipun sering kasar sama anak pengidap polidaktili ini, ia masih punya rasa sayang. Kesepian akan menjangkiti masa tua bapak, kalau anak ini pergi.
“Teteh, kalau ketemu bapak dikota sampaikan, segera pulang dan belikan baju baru untukku!,” teriak Diman kepada istriku sebelum angkutan kami beranjak pulang. Beruntung istriku berhasil menggapai tangannya di jendela, dan menyematkan uang yang cukup buat dia beli baju.
“Diman juga kepengin baju dari ayah!.” Teriaknya lagi.
Kami mengiakan dan kendaraanpun berpacu kecepatan. Kami meninggalkan kampung itu tanpa menoleh kebelakang untuk yang kedua kalinya.
Ah, akhirnya aku dapat menyelesaikan tulisan ini. Meskipun masalah dalam kisah ini belum juga selesai. Seperti semua balada penderitaan orang-orang pinggiran yang tak pernah selesai. Tak pernah berhenti di dera ketertindasan…
Aku akan kembali ke kampung istriku di Talaga. Mencoba mengurai kesulitan orang-orang desa dengan kemampuanku sebagai penulis. Tapi kudengar Alm. Rendra berujar:
Bersumpahlah…
Jangan buat karya sastra
Gajinya tak seberapa
Apa honorku nanti sebagai penulis bisa membebaskan orang-orang desa dari ketertindasan?. Atau aku harus menjadi politisi? Atau pebisnis?.
***
Talaga, 1 Februari 2008
M Taufan
Taufanmuhammad9@gmail.com
*Cerpen, Juara ke 2 Trophy Walikota Bekasi (FLP Bekasi).