Cerpen

Layang-layang Naga
Oleh M Taufan

Nung, mendapati ayahnya sedang menyusun keping-keping kolase. Pikirannya mengembara bagaimana dapat membuatnya menjadi sebuah cerita utuh. Ayahnya sekarang lebih banyak membisu, tak pernah mengerti bahwa kolase-kolase itu tak dapat disusun sebagaimana pikiran menginginkannya.

Bocah itu menginginkan ayahnya seperti sediakala dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan remeh temeh yang selalu melintas dikepalanya. Seperti pertanyaan tentang siapa pemilik layang-layang naga, yang selalu terbang mengibaskan ekornya siang hari menjelang senja. Ia masih berharap ayahnya dapat membuatkan untuknya. Ayahnya bukan pembuat layang-layang, ia hanya seorang pembuat cerita.

Kali ini memang ayahnya harus membuat cerita secara sungguh-sungguh. Ia sudah menasbihkan diri menjadi seorang pengarang, pekerjaannya dahulu sebagai seorang auditor, sudah ditanggalkan, banyak mudaratnya dari pada manfaatnya. Menjadi Auditor lebih sering menguar kongsi untuk sebuah kejahatan keuangan yang mesti disembunyikan, jika tidak begitu ia akan menerima resiko dikorbankan dari jerat konspirasi.

Ia yakin, ia dapat menjadi seorang pencerita hebat. Terbukti sebelumnya, kisah-kisahnya selalu diminati beberapa koran lokal. Anehnya saat ia benar-benar menasbihkan diri sebagai seorang pengarang, ia merasa mengalami kematian nalar: ia selalu gagal menyusun penggalan-penggalan kisah yang terbit dipikirannya menjadi benar-benar utuh sebagai cerita.

Maka meski setiap hari ayahnya ada, Nung merasakan justru ayahnya semakin hilang. Ayahnya lebih sering membisu daripada saat-saat ia menjadi seorang auditor, selalu saja ada waktu-waktu bersamanya secara lengkap.

Kali ini Nung menganggap ayahnya benar-benar tak menginginkannya. Nung bagai sebuah ruang kosong yang mencegah nalarnya bekerja, Nung diusirnya, sudah beratus-ratus kali pertanyaan tentang layang-layang naga itu tak pernah terjawab. Siapa pemiliknya?, di mana kira-kira layang-layang itu diterbangkan dan sejuta mimpi bagaimana ayahnya dapat membuatkannya.

“Mungkin itu layang-layang naga yang terbang dari kelenteng Chin Tzu, Nung.” Kata ayahnya dulu, sebelum benar-benar menjadi laki-laki dewasa yang autis.

Tapi setiap kali Nung mencarinya, tepat di muka kelenteng yang berada tak jauh dari rumahnya, Nung tak pernah melihat seseorang menerbangkannya. Namun Persoalannya sekarang bukan sekedar layang-layang naga yang menari gelisah diudara, tapi ibunya yang selalu memaksanya mampu mengeja huruf.

Ibunya kini geram, segala kata-kata kotor keluar dari mulutnya membuat Nung benar-benar merasa menjadi seorang bocah paling bodoh di muka bumi. Saat itu, ayahnya bangkit, membela Nung, bukan dalam artian sebenarnya, karena kolase cerita yang sudah tersusun kembali ambruk. Keping-keping Kolase itu pada akhirnya menjadi semacam roh yang mengisi ruang hampa sebuah guci, gelas-gelas ukir dan vas bunga.

Suara pecahan mengudara, melengking. Menjadi sebuah fasat cerita tanpa disusun secara sengaja. Dan Nung menganggap buah cerita itu adalah ekor layang-layang naga di suatu siang yang sepi, yang perlu ditatap, dilukiskan. Nung mendapatkan tembok, untuk melukiskan layang-layang naga itu di muka rumah, tapi pertengkaran orang tuanya memberontak kehendaknya, membuatnya lebih menyukai teduh pohon kersen, lima ratus meter di luar pagar rumah, di pertigaan jalan menuju sebuah deretan Ruko.

***

Bongham mendapati Nung bergelantungan di dahan kersen. Sudut matanya mengeluarkan kepedihan. Pras anaknya sedang tergeletak tak berdaya di sebuah kamar kelas tiga rumah sakit. Nung seperti Bongham merasakan kesepian yang sama.

Siang buta begini hanya Pras yang selalu setia menemaninya, Bongham bukan seorang ibu yang memiliki kemampuan dapat membuat Pras dapat tertidur siang hari. Bongham hanya lelaki pengangguran dari seorang istri yang bekerja sebagai buruh sebuah pabrik di pinggiran kota.

Bagi Bongham, seperti pernah ia umbar pada setiap ibu-ibu rumah tangga menjelang maghrib, anak-anak menjadi korban ego ibunya saat mereka mengorbankan siang ke dalam mimpi mereka. Bongham meyakini, bahwa anak-anak yang beraktifitas siang hari akan melancarkan kerja otaknya yang tengah berkembang pesat, sementara anak-anak yang tertidur siang hari akan membuat pikirannya rapuh dan mudah terkena pilek.

Maka Bongham, selalu terkenang akan kenakalan anaknya bersama Nung, menyusun batu-batu menjadi semacam miniatur kota. Tapi sekarang kenakalan Pras hanya menjadi memori yang mengkristal dari sumber air matanya. Pras sedang merasakan sakit yang menganga di kepalanya. Itulah yang membuat dirinya selalu bolak-balik ke rumah sakit.
Didekatinya Nung dengan perasaan hampa. Mata Nung nanap di sebuah dahan, sementara Bongham mendekat padanya. Apakah ada kabar gembira mengenai sahabatnya. Begitu tatap mata Nung. Tapi yang dibawa Bongham adalah kabar mengenai siapa yang selama ini menerbangkan layang-layang naga.

“Om mendapatkan siapa pemilik layang-layang naga itu, Nung!,” teriak Bongham.
Nung menjatuhkan diri dari dahan kersen. Benarkah, orang tua itu sudah mendapatkannya, kabar yang selama ini ia cari jawabnya bersama sahabatnya Pras, hingga rela mengembara siang terik dari lorong ke lorong jalan.

“Dan kau bisa memilikinya, Nung!.”

“Beneran, Om?.” Tanya Nung mengerutkan dahinya, matahari begitu terik, siang ini.
Tiba-tiba tanpa disadari tubuh kecil itu berjalan bersama Bongham, menelusuri sebuah jalan yang akan membawanya di mana layang-layang itu diterbangkan. Mereka menaiki sebuah angkutan umum, di pertigaan jalan. Sejenak kedua manusia itu lenyap mengukir jejak, sepi.

***

Semakin didekati layang-layang naga itu semakin menjauh dari pandangan Nung. Ia pada akhirnya seperti ular naga dalam setiap kisah pengantar tidur yang selalu dibawakan ayahnya jauh sebelum menjadi seorang pengarang seperti sekarang, selalu memautkan misteri tentang keberadaannya sebagai satu spesies yang berdiri sejajar bersama binatang rumah tangga. Sebagaimana seekor bunglon atau kadal yang sering melintas di pekarangan rumahnya. Dulu memang hewan itu mungkin pernah ada, entah sebagai mimpi atau nyata. Begitu ayahnya pernah bilang.

Bongham berkata, bahwa ia akan mengajak Pras sebelum mendapatkan siapa yang menerbangkannya dan bagaimana memilikinya.

“Nung juga kangen kan, sama Pras.”

Nung mengangguk.

Hari beranjak malam, tibalah mereka di sebuah rumah besar mirip rumah sakit. Dikatakan mirip karena ia memang tak sepenuhnya seperti rumah sakit. Ada suara mendengung bagai mesin produksi di ruangan lain. Seorang perempuan tiba-tiba muncul, langkah dan gayanya seperti seorang suster yang biasa merawat seorang pasien.

Perempuan itu mengajak Nung pergi, memberinya kembang gula dan beberapa mainan. Nung tergiur dan meninggalkan Bongham sendirian, mungkin perempuan itu akan mengajaknya ke kamar Pras atau bisa jadi, bagi Nung ini seperti ritual khitanan yang pernah ia alami beberapa tahun lalu.

Nung melewati lorong-lorong gedung itu, memang mirip rumah sakit, tapi terkadang mirip tempat pemotongan daging hewan. Di sebuah lorong ada beberapa orang mengemas daging berbau anyir yang dimasukan ke dalam sebuah kardus kemasan.

Tiba-tiba Nung merasa kepalanya pening. Dan ia seperti memasuki sebuah ruang operasi. Dua orang lelaki yang mengenakan pakaian layaknya seorang dokter menyuruhnya berbaring. Nung tak pernah lagi tahu jalan cerita selanjutnya. Dia hanya merasakan sebuah tidur yang agung.

***

Pras siuman. Kedua orang tuanya memeluknya sangat dalam. Pras lalu bercerita bahwa ia bermimpi Nung menerbangkan layang-layang naga. Ia seperti itu karena, suatu siang Pras telah membawanya kepada seseorang yang selama ini dia cari, pemilik layang-layang naga. Dan orang itu telah memberi Nung sebuah layang-layang naga, mengajarinya bagaimana menerbangkannya.

“Pras kangen sama Nung, Pa!.”
Tiba-tiba Bongham mengeluarkan air mata.
“Kenapa Papa menangis?”

Bongham tak menjawab. Istrinya sendiri heran mengapa suami yang selama ini selalu tegar menghadapi segala cobaan hidup, begitu terlihat sangat tertekan, terlebih pada hari-hari di mana anaknya bangun dari setengah kematiannya.

“Papa bahagia kamu kembali,” ucap Bongham lirih.
“ini apa, Pa?,” tanya Pras sambil mengusap kepalanya yang retak ditisik kawat jejak operasi. “Mirip kenur layang-layang naga, dalam mimpi Pras.”

Bongham kembali terjatuh dalam kesedihan. Ia seperti ingin mengatakan bahwa benang yang menjahit kepala anaknya sehabis operasi memang untaian daging yang diambil dari perut Nung. Sisanya adalah uang untuk membayar semua biaya perawatan anaknya itu.

Dan mungkin masih ada uang untuk diberikan kepada orang tua Nung, orang tua yang mungkin sekarang sedang meratap karena kehilangan anak yang pasti dicintainya, sekedar santunan, bahwa ia telah mengirim anaknya kepada sang pemilik naga udara. Yang selama ini selalu misterius di mata anak itu.

***

Cikarang-Pebayuran 2 November 2010
Dimuat di Majalah Sastra Horison Edisi Januari 2011

Esai

Mencoba Mengangkat Martabat Perempuan
—Hasil Pembacaan Terhadap Buku Puisi Eko Putra
Oleh: M Taufan Musonip

Tercipta keyakinan bahwa mahluk pertama yang diciptakan Tuhan adalah wanita, ia di buat dalam enam masa, sesaat sebelum Tuhan tinggal di atas Arsy (QS 7-54).

Nampak kontorversial sebenarnya hal itu, sebab seperti kita yakini, justru lelaki awal mula diciptakan, oleh karenanya perempuan diciptakan terakhir dari tulang rusuk lelaki. Tapi ada kalanya fakta yang tersembunyi ini bisa disigi, sebab Ayat Suci jika ia mirip puisi, ada banyak subtansi yang mesti ditaja kembali prihal sisi lain awal mula penciptaan semesta.
Dari sinilah seorang Penyair, mencoba menempatkan perempuan pada derajat yang tinggi, diagungkan. Merujuk pada fakta adanya konsep awal mula penciptaan manusia di atas, dari perspektif yang lain.

Jika kita diingatkan pada The Art of the Novel karya Milan Kundera, hal yang mencukupi bagi pembangunan sebuah nilai estetik adalah bagaimana mendapatkan sebuah kebenaran menjadi suatu rangkaian kalimat yang artistik. Sebab menurut Kundera, kebenaran tanpa estetika tak lain adalah bentuk kebodohan (kitsch).

Maka puisi dibangun untuk menerjemahkan kebenaran dalam bentuknya yang estetik, di mana prosesnya adalah upaya penjangkauan diri penyair sebagai manusia, yang memiliki signifikansi sebagai “ada”.

Nah, ada puisi-puisi Eko Putra yang terangkum dalam buku kumpulan puisi terbarunya, di mana bangunnya dilandasi imajinasi kasih sayang terhadap perempuan, menjadikan puisi berdiri sebagai sebuah feminitas (simbolisasi estetik), menyatakan bahwa ia adalah media yang mengantarkan semua manusia menuju Tuhan.

Kunci dunia yang kau ledakkan melalui tanganku
Senantiasa menenteramkan segala rahasia
Yang tak pernah kucapai seutuhnya
Karena itulah aku dapat melihat semesta yang lain
Selain hatimu yang menerbitkan mabukku
Paling dungu
Mengantarkan aku dalam perburuan sajak-sajakku
(Eko Putra, Sebuah Epitaf h. 2, Buku Puisi Aku Serigala yang Merdeka Karena Cinta)

Sajak awal buku milik Eko Putra ini begitu memukau dalam rangka menaikan derajat perempuan —semua puisinya ditujukan untuk kekasih dan ibundanya tercinta, sebagai pemegang kunci dunia yang mampu membuka rahasia semesta, di mana sang lelaki terbuka mengakui bahwa dirinya tak pernah menjangkau rahasianya. Hanya sebatas mabuk menjadikan kekasih hatinya sebagai inspirasi pembangunan kekaryaannya. Sayang Eko terlalu terburu-buru di sini, mengagungkan kekasihnya sebatas media, ketika rahasia yang digenggamnya belum juga terpecahkan.

Penyair terjebak dalam mabuk(ku) paling dungu, sebuah hasrat yang memanjang hanya menyentuh persoalan rindu dendam, kasmaran, dan cinta tak tersampai. Menggauli perempuan demi sebait puisi. Hingga semata-mata jangkauan ejakulasi.

Jika Eko mengatakan buku puisinya sebagai cerminan masa remajanya, ia sebatas menyiratkan dirinya yang terbakar oleh hasrat dalam bayang-bayang dekapan seorang gadis (Di Matamu Rohku Terbakar, h 32)—sebagai cermin remaja masa kini kah? .
Belum Merdeka.

Perempuan berdiri memahami kuasanya sendiri secara kodratnya, sebagai sebuah ecclesiasticus menuju Ketuhanan. Dalam saujananya cahaya Tuhan terpancar. Tepatnya dalam segala kuasanya cinta Tuhan melalui manusia mengalami desakralisasi: menikmati keindahan dalam sudut-sudut kewanitaan adalah suatu momentum yang tepat mengarahkan segala pikiran pada sekularisasi yang benar (entmytologisierung).

Bagi saya rahasia yang belum terperi itu adalah harapan adanya aliran melodi tentang emansipasi wanita yang diteruskan menjadi semacam kuasa wanita yang memberi pencerahan pada naturalisme sebagai kesadaran regenaratifnya membayangi langkah kerja lelaki, di mana ia menafkahi anak-istrinya dalam memanfaatkan alam semesta secara eksploitatif. Dan bukan sekedar ejakulasi teofanik, sebatas pengantar syahdu doa-doa yang membumbung ke langit.

Sehingga menjadi benar-benar mengarah pada sekularisasi yang benar, dari refleksi keindahan Tuhan dalam tubuh perempuan menuju pelestarian lingkungan hidup. Akan tetapi Harapan itu pada akhirnya tanggal begitu saja, ketika Eko hanya mendedah prihal cinta ugahari kaum remaja.

Mungkin buku itu harus dipararelkan dengan buku pertamanya (Musi yang Manis Kekasihku. Bejana, 2010), yang lebih mencengangkan, berisi tentang semangat-semangat kelokalan dengan sedikit bumbu naturalisme. Buku ini harus rela dikatakan sebagai semata-mata sebab-musabab, hasil dari kontemplasi feminismenya, mengarah pada buku pertama yang lebih konkret menaja apa yang terjadi hari ini sebagai zeitgeistnya. Sebuah logika terbalik perkara sebab-akibat. Toh, soal depan-belakang dalam upaya penerbitan sah-sah saja terjadi.

Namun bagi saya hasilnya tetap kurang gereget, Eko seolah memberikan saya sesirah semangka yang bila dibelah, salah satu belahannya kurang matang apabila dinikmati, saya tidak tahu kenapa Eko melakukan pemisahan itu.

Penyair belum merdeka karena masih terjerat pada rasa cinta pucat kepada semua kekasihnya, meskipun pada dasarnya penyair sudah mencoba mengangkatnya sebatas inspirasi proses kekaryaan. Kemerdekaan terjadi baru sebatas keinginan penjangkauan terhadap pengagungan gaya literal, adikarya yang indah.

***

Cikarang, 9 Januari 2011

Dimuat di Berita Pagi 30 Januari 2011

ESAI

Berusaha Menjawab Pertanyaan Cepi Sabre.
Oleh: M Taufan

Tiba-tiba saja Stephen Hawking meragukan pendapatnya semula, tentang proses awal mula keberadaan alam semesta, sebagai tanda-tanda adanya Sang Pencipta. Teori Big bang yang melandasi keyakinan itu dibantah sendiri dalam buku barunya The Grand Design.
Menurut Hawking ledakan dalam Big Bang adalah ketentuan hukum gaya berat dan mekanika kuantum serta konsekwensi fisika lainnya. Kehadiran pencipta kemudian menjadi nihil.

Statement Hawking menandai hadirnya masyarakat modern yang semakin meragukan kehadiran Tuhan, meskipun sebenarnya hal ini sudah cukup usang ditemukan di dalam buku-buku ilmu pengetahuan yang sudah berjamur.

Meskipun ada pembantahan terhadap ilmu-ilmu pasti yang menyiratkan kepercayaan kepada Tuhan, ilmu-ilmu tersebut masih memiliki kegunaan dan fungsi dalam membangun teknologi. Sungguh, bagaimanapun tak pernah ada ilmu pasti yang bebas dari kepentingan dan ideologi penemunya. Namun di sini saya tak akan membahas sejauhmana misalnya teori relativitas Einstein yang memahami keterbatasan sensibilitas manusia sebagai pertanda adanya kehadiran Sang Pencipta Yang Maha Mengatur Kehidupan sebagaimana teory uncertainty Heissenberg.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin membahas pertanyaan Cepi Sabre yang berkaitan dengan Sang Pencipta dalam kepercayaan agama yang juga hampir dinafikan dalam kehidupan sosial, sebuah pertanyaan yang, jujur, sebenarnya juga sudah cukup usang, pertanyaan yang pernah saya ajukan pada masa-masa menjadi mahasiswa, masa-masa dimana gairah eksibisi berpikir saya masih meruah dan segar, semacam zaman aufklarung, seperti ungkapan Hawking sendiri, “Kemenangan akal budi (aufklarung) manusia adalah semacam penguasaan pengetahuan kita akan pengetahuan Tuhan”, sebuah awal di mana Hawking mendaulat dirinya sebagai manusia paripurna yang hampir mendekati dirinya sebagai Tuhan itu sendiri.

Pertanyaan teman saya itu adalah apakah dengan Agama manusia menjadi baik? Selanjutnya bukankah nilai sosial ada karena adanya kesepakatan bersama?, bukan agama.

Pertanyaan keduanya tentulah mengingatkan kita pada tokoh materialisme paling kahot, Marx. Marx menyetujui falsafati Feurbach tentang posisi Tuhan sebagai antitesis, seperti layaknya ketika manusia sedang bercermin, sebagai muasal dari kelemahan manusia jaman purba sosok bayangan cermin itu kemudian dikatakan sebagai Tuhan.

Menurut saya sendiri agama tidak pernah bertanggung jawab agar pengikutnya menjadi baik. Agama hanyalah bertanggung jawab menyampaikan pada umatnya tentang isi dan keunggulan kitab yang dibawanya. Meneropong agama bukanlah dilihat dari sudut prilaku umatnya tapi agama itu sendiri: sejauhmana, kata Iqbal —penulis buku yang telah menginspirasi bangsa Pakistan untuk berdikari dari India, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam— agama dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia, dimana Tuhan justru hadir sebagai signifikansi kekuatan manusia itu sendiri.

Apakah Manusia Dapat Menjadi Baik?
Menggaris bawahi tanggung jawab agama dalam menyampaikan isi dan keunggulannya, maka isi kitab suci membawa manusia dalam penafsiran yang dialogis bukan monologis. Dalam penafsiran terhadap kitab suci, manusia bisa mengkritisi tiap-tiap ayat yang ada. Dalam hal ini agama haruslah menjadi inspirasi dalam kehidupan profan, jika tidak, seperti dikhawatirkan, agama hanya akan terpuruk di dinding-dinding sunyi tempat ibadat.

Gerakan reformasi agama dalam kristen katolik bahkan terjadi pada saat Paulus menggulirkan Vatican II, pada tahun 1970-an, sebagai usaha mendamaikan antara yang suci dan yang profan. Ini menjawab kebutuhan modernitas, bahwa persoalan-persoalan sekularisasi —kehidupan sehari-hari di luar gereja— adalah persoalan muamalah yang sebanding dengan usaha-usaha keagamaan dalam tubuh gereja dan kepausan.

Terpuruknya umat beragama seperti di Indonesia, adalah adanya jarak yang menganga antara yang suci dan yang profan. Tuhan hanya berada ditempat-tempat ibadah, seperti simbolisasi doa manusia yang menengadah ke langit. Beribadah hanya terkait pada persoalan-persoalan ritual bukan persoalan muamalah —ibadah sosial—. Dalam hal ini Rekonstruksi Pemikiran Agama yang digulirkan Iqbal adalah mencoba menarik Tuhan ke dalam diri manusia, dan menempatkan Tuhan bukan semata-mata sebagai pengawas kehidupan manusia secara pribadi, tetapi sebagai moda kekuatan manusia itu sendiri.

Agama dengan demikian harus menjadi inspirasi ilmu pengetahuan alam, dan sekularisasi. Agama harus mengatur kehidupan hajat orang banyak, yang menjadi kesepakatan. Agama juga merupakan moda singkronisasi antara kepedulian orang elite kepada orang-orang awam dan mustad ‘afin. Agama harus menjadi inspirasi gerakan manusia kepada revolusi berpikir, dan melepaskan ketertindasan. Jika tidak demikian agama haruslah dikritisi, disesuaikan dengan jamannya.

Agama memberi inspirasi
Singkatnya agama adalah abstraksi dan inspirasi dari derivasi hukum-hukum sekuler, memosisikan dirinya sebagai “yang tak berlawanan” dengan hukum hidup manusia sehari-hari. Parahnya misalnya di Indonesia ada dua golongan yang telah membuat agama menjadi terpuruk, golongan orang-orang yang menganggap kitab suci agama mereka telah mencukupi untuk mengatur kehidupan khalayak umat, yang menciptakan fanatisme dan golongan orang-orang yang menganggap teks ayat suci tidak mencukupi kebutuhan hidup manusia, melahirkan liberalisasi yang melulu mendewakan akal sebagai gerakannya.

Padahal pada dasarnya kitab suci adalah abstraksi dari hukum-hukum manusia didunia yang memerlukan derivasi.
Menindak lanjuti pertanyaan kedua bahwa nilai sosial adalah kesepakatan bersama antar manusia ketimbang agama, ternyata saya meyakini bahwa setiap kesepakatan menyimpan ketaatan dan mbalela. Artinya pada saat tertentu manusia dapat menyepakati hukum tertentu lalu tiba-tiba ia akan memberangusnya guna menempatkan hukum sosial sebagai kesesuaian berlangsungnya kehidupan manusia.

Dalam komunisme misalnya, Nietzsche —dalam Anti Kristus, Senjakala Berhala— pernah mengatakan revolusi sebagai upaya manusia menembak kekuasaan yang pada ujungnya adalah cara-cara suicide. Revolusi proletariat dalam komunisme adalah pengguliran diktatoriat baru yang akan menghasilkan konflik politik baru.

Selalu ada antitesa dari kebenaran kontemporer sebagai kesepakatan, karena pada dasarnya manusia selalu cepat berubah. Dalam setiap ketaatan pada kesepakatan akan selalu menciptakan mbalela, penyimpangan dan pemberontakan. Agama mengontrol kepribadian manusia yang cepat berubah itu. Agama juga mengontrol kemapanan nilai, agama haruslah menyepakati apa yang digulirkan Nietzsche sebagai laboratorium penilaian kembali semua nilai yang ada.

Dalam setiap kemapanan nilai yang berubah menjadi despotisme akan muncul para pembaru, setiap pembaru selalu ditilik dari bagaimana upayanya melakukan pembebasan terhadap penindasan, sekali lagi agama harus menjadi inspirasi gerakan-gerakan seperti ini. Gerakan Pink Tide oleh Hugo Chaves di Venezuala haruslah disepakati sebagai nilai-nilai agama, yang memperkuat kepribadian bangsanya untuk menggulirkan gerakan manusia. Termasuk gerakan Bolsewik, revolusi Iran dan Reformasi di Indonesia. Agama juga mengontrol kemapanan nilai yang sudah membebat pasca gerakan kemanusiaan apabila bergerak ke arah despotisme, jika tidak demikian agama memang perlu dikritisi.

Agama haruslah memenuhi segala bidang hajat hidup manusia dan Tuhan hadir sebagai pembisik pembaruan itu melalui isyarat alam semesta meliputi semesta manusia. Tuhan adalah energi dari setiap perubahan dan pembaruan.

Kehadiran Tuhan paling tidak memberi penyejuk kepada manusia modern yang cenderung ambisius dan naif. Keterlibatan Tuhan dalam kehidupan kita memberikan refresh kepada kerja otak kita yang berjibaku dalam kehidupan instan yang virtual.

sebagai manusia kita wajib berikhtiar tetapi keyakinan bahwa Tuhanlah yang akan memutuskan keberhasilan dari cita-cita ikhtiar itu: membuat kita dapat mengurangi stressing dari setiap kegagalan yang ada, meskipun seharusnya sebagai manusia bertuhan kita mesti berani mengkritisi keyakinan Thomas Alfa Edison yang menyatakan kegagalan-kegagalan sebagai pertanda keberhasilan, sebagai manusia bertuhan seharusnya kita tidak mengulangi kegagalan-kegagalan. Karena jika kita mentoleransi kegagalan-kegagalan, yang terjadi adalah karut marut bangsa Indonesia sekarang, yang membiarkan bencana banjir selalu berulang tiap tahun seperti selalu berulangnya kasus korupsi.
Mudah-mudahan Cepi dapat memahaminya. Kalau tidak ia harus kembali berfilsafat ke kajian teologis awal. Sebuah kajian yang cukup membosankan bagi saya.
***
Cikarang, 6 September 2010

ESAI

Manusia Unggul: Dari Teks Hingga Kesadaran Naturalisme
—Lagi-lagi Mencoba Menjawab Pertanyaan Cepi Sabre
Oleh: M Taufan

Bagi saya kepercayaan Derrida atas teks sebagai sesuatu yang kosong tidak pernah bebas nilai sebagaimana ungkapan Nietzsche tentang kebenaran sebagai kekeliruan-kekeliruan guna menghadapi arus hidup.

Konvensi kepercayaan umat manusia atas teks sebagai pusat segala sesuatu yang oleh Derrida disebut sebagai mystical text menjadi pertanda kelemahan manusia. Oleh karenanya Derrida menjadikan teks hanya sebagai tempat kehendak berkuasa. Teks harus diamini sebagai kegiatan penafsiran, teks menjadi pengertian subjek sang pembaca. Nietzsche menyebut semua teks yang ada apapun bentuknya sebagai metafor.

Namun sekali lagi, kepercayaan bahwa sebuah teks tanpa kehadiran sesuatu didalamnya tidak bebas nilai, kekosongan didalam teks sebelum Nietzsche hendak menafsirnya juga tidak bebas nilai. Kehampaan yang ada dalam teks yang mendorong eksistensi manusia secara tidak sadar membuat Nietzsche termasuk Derrida terjebak dalam gaya metafisiknya sendiri.

Itulah mengapa saya menilai bahwa penafsiran selalu bersifat mistik. Kekeliruan-kekeliruan sebagai stigma kebenaran dalam teks selalu menyimpan kemungkinan keterbatasan manusia atas penafsiran. Atau kekeliruan-kekeliruan itu hanya dimiliki oleh eksistensi teks sebagai kodratnya?. Jika produksi teks selalu menciptakan kekeliruan maka kepada penafsiran kekeliruan juga merupakan sebuah keniscayaan.

Bagaimanapun kepercayaan dekontruksi atas teks selalu menggiurkan bagi sebuah kekuasaan, amandemen UUD 1945 tentang masa jabatan seorang presiden kemudian diragukan untuk memperpanjang masa jabatan lebih dari dua periode. Teks UUD 1945 yang nyaris dianggap suci, mendapat tantangan perubahan dari orang-orang elit yang memegang kendali negara. Tantangan perubahan itu kemudian menjadi sangat sakral.

Sebuah institusi mau tidak mau merupakan medan yang memungkinkan untuk membangkitkan kehendak berkuasa itu sebagai subtansi sosial atau sublimasi. Inilah yang dibicarakan Foucault dalam bukunya The Order Of Things.

Institusi menjadi medan konflik, sebuah kemungkinan akan keretakan. Keretakan itu justru dimulai saat orang-orang diluar arena politik mampu menjungkirbalikan kemapanan dan nilai-nilai yang ada. Bagi Foucault mereka adalah orang-orang yang terkena kegilaan tertentu, orang-orang yang menjadi wadah bagi bisikan atas suara-suara yang muncul dari batinnya sendiri, Foucault menyebutnya jiwa, sebagai sebuah senyawa fisik terdalam badan manusia, tapi saya masih meyakininya sebagai resultan pergulatan batin.

Kegilaan yang meradang dalam keadaan itu menurut Foucault juga merasuki jiwa terdalam para sastrawan, karena selalu ada dalam keadaan menentang arus hidupnya sendiri, oleh karenanya tidak salah jika para sastrawan memiliki keyakinan: penyair membangun kemandirian sebuah negara sementara para politisi mulai merusaknya.

Kehadiran teks apapun bentuknya selalu dimanfaatkan sebagai penegasan atas kekuasaan. Oleh karenanya teks yang ada memerlukan antinom. Antinom itu akan menerbitkan jurusan kebenaran manusia sebagai aktualitas.

Kepada Cepi
Dalam hal ini kemudian saya merasa tertarik untuk menjawab pertanyaan Cepi Sabre tentang keunggulan manusia dalam diskursus ubermensch Nietzsche atau insanul kamil yang menjadi konsep dalam tradisi sufisme.

Pertanyaan teman saya itu adalah seputar kekuatan manusia dalam wacana kekinian yang terbit sebagai ubermensch di satu sisi, dan insanul kamil di sisi lainnya —nampaknya Cepi menghubungkannya dengan tulisan saya sebelumnya ( Pelenyapan Diri Dalam Berkarya: Sebuah Tantangan Kemandirian dan Berusaha Menjawab Pertanyaan Cepi Sabre) dimana pada kesempatan tulisan pertama sebagaimana subtansi semua tulisan-tulisan saya yang memiliki warna tradisi tasawuf, saya selalu menghubungkan tema-tema kegilaan seorang sastrawan yang tercermin dalam wahdahul wujud hingga autokritik saya terhadap klaim Hawking dalam penguasaan akal budi sebagai penguasaan pengetahuan Tuhan.

Kemudian diskursus saya adalah, apakah setiap penarikan Tuhan ke dalam diri selalu akan berdampak pada pelemahan manusia?. Apakah kekuatan selalu menjadi negasi absolut vis a vis Ketuhanan?

Kekuatan manusia bukanlah muara dari aktualitas manusia. Tetapi sebagaimana diharapkan Cepi Sabre sendiri ia haruslah terhubung ke dalam harmonisasi hubungan antar manusia, sebagai cermin budaya barat hari ini, Cepi berkeyakinan bahwa keunggulan manusia dalam menciptakan sistem akan berdampak besar pada kedamaian manusia. Tapi saya akan segera membenarkannya, bahwa kedamaian manusia haruslah tidak terpusat pada satu daratan bernama “Barat”, tetapi aktual untuk seluruh bumi.

Jika di negara swiss hari ini rakyatnya menikmati coklat beraroma wine, toh kenapa di negara Indonesia masih banyak orang-orang kelaparan. Jika di Amerika Serikat betapa industrialisasi begitu maju hingga menyumbangkan dampak emisi karbon, kenapa setiap orang Indonesia merasakan dampak hebat dari deforestasi?, hebatnya pembangunan sistem yang mengarah pada humanisme di barat bukankah hasil dari pengerukan kekayaan alam di negara dunia ketiga?

Setiap kekuatan selalu menanamkan hegemoni. Dan tugasnya kaum intelektual di negara ketiga adalah bagaimana menumbuhkan sikap konter hegemoni. Sikap konter hegemoni itulah memerlukan diretasnya kembali jalan manusia unggul. Manusia unggul (ubermensch) perspektif post modernis (atau post westernisme), adalah penggabungan kekuatan aktual manusia dan kesadaran Ketuhanan. Ubermensch yang berpondasi pada wahdahul wujud: kesejatian seorang manusia.

Sastra dan Pembangunan Berkelanjutan
Setiap manusia bertuhan haruslah menyadari dirinya yang memiliki kesejatian berupa kekuatan dan kesadaran menyebarkan kedamaian di muka bumi. Setiap orang berlomba-lomba menjadi orang nomer satu, lalu apakah saya akan berpikir bahwa orang-orang yang gagal menggapai kedigdayaan akan saya sebut sebagai sampah?.
Ubermensch dalam konsep wahdahul wujud adalah upaya pengembangan eco-industrialisasi, eco-feminisme dan eco-teknologi. Kekuatan yang dapat mempertahankan manusia dari ancaman hidup dalam membangun teknologi dan industriliasasi tapi juga sekaligus membangun upaya pengembangan pelestarian lingkungan. Wacana ini memang bukan hal baru, tapi cukup aktual ditengah laju industrialisasi yang semakin cepat menyumbang perusakan lingkungan hidup.

Sastra dalam hal ini berkompeten dalam membangun sinergi barat dan timur —sebab kepunyaan Allah lah barat dan timur. Jika barat memiliki sejarah memukau tentang pemikiran-pemikiran paripatetik maka timurlah yang membangun unsur-unsur iluminasi. Iluminasi yang lahir ditangan seorang sufi, Suhrawardi, tentang urgensi kasih sayang terhadap lingkungan haruslah merasuki semua diskursus pemikiran barat. Begitu juga sebaliknya, umat manusia di belahan timur harus dibangunkan semangatnya untuk memasuki wacana keilmuan dunia barat.

Sastra tak pernah lepas dari kesadaran naturalistik, sebagian sajak-sajak kontemplatif Abdul Hadi WM dalam Madura, Luang Prabhang adalah pembicaraan bathin dengan sang alam. Pada kesempatan itu sastra dalam gerbang perenungannya secara das ding an sich seorang penyair membangun kebijaksanaan dalam perspektif naturalisme. Akan tetapi seperti proses meditasinya Descartes perspektif naturalisme pada akhirnya selalu berkembang pada mengadanya manusia, penyair itu sendiri. Kesadaran naturalisme tak pernah lepas dari upaya-upaya perenungan yang bersifat akali: ciri berada manusia.


Kemajuan keilmuan barat haruslah menyumbang pembangunan berkelanjutan (suistainable development) di negara-negara ketiga. Kelihatannya itu sudah terjadi, akan tetapi masih berkisar diantara kepentingan-kepentingan pembangunan industrialisasi di belahan timur dalam kerangka Konsensus Washington/liberalisasi.

Saya kira perlu diagendakan juga karya-karya sastra yang mengarah pada pembangunan karakter naturalistik di tengah hiruk-pikuk manusia terus meretas kehendak berkuasa atas dunia. Karakter yang peduli terhadap sesama, terlebih juga generasi selanjutnya.

Hanya dengan karya sastra manusia akan membiasakan diri berdialog atas semua teks yang melintas setiap waktu dalam pikirannya, dihubungkan dengan teks sastra yang selalu menerbitkan diskursus dan penafsiran, hingga akan tercipta kebudayaan literer masyarakat Indonesia.
***
Cikarang, 17 Oktober 2010

Cerpen

Cinta Seorang Lelaki Sampah
Oleh: M Taufan

Sorak itu seperti ritmis yang berjalin dengan olah tubuh yang dipersembahkan sang penyanyi kepada penontonnya. Ini nyanyian yang sebenarnya. Nyanyian berwujud seribu manusia dalam Penciptanya. Dan Tuhan seolah sedang bernyanyi.

Burman pemuda itu menanti seorang penyanyi, tambatan hatinya. Sang kekasih yang sudah lama ia nanti hadir dalam hatinya.

Marsyila, janda cantik pelantun dangdut, telah merubah cara pandangnya melihat kehidupan. Marsyila telah memunculkan cinta yang unik kedalam dirinya. Cinta seolah telah menumbuhkannya menjadi manusia mandiri. Cinta telah menyihir seseorang melakukan apa saja demi apa yang diingikan sang kekasih.

Ada cerita cinta yang harus dikisahkan. Cinta selalu klise wujudnya bila harus menyandingkannya dengan perjuangan. Bila perhelatan itu berhasil ia kalahkan, maka cinta telah membuat seorang manusia, unggul, oleh karenanya memiliki kekuatan. Perjuangan akan terdengar picisan jika tak pernah memautkan kemenangan.

Burman melewati hidupnya di kota untuk mengumpulkan kekuatan. Demi cinta yang hendak ia gapai. Ini membuktikan bahwa cintanya terhadap janda itu sungguh-sungguh adanya. Aku sudah digdaya, dan akan kuangkat harkat manusiamu di tanganku, katanya dalam hati.

“kau harus yakin akan menjamin segala kehidupanku, jika kau sungguh-sungguh mencintaiku.” Kata Marsyila sebelum Burman membulatkan diri pergi merantau, mencari sesuatu yang akan membesarkan dirinya.
Bersama Kamidi pamannya akhirnya dia pergi merantau. Hidup dengan sampah daur ulang dari pabrik. Di bantaran Kali Malang ia hidup penuh keprihatinan, tapi perlahan namun pasti kehidupan itu ia raih,
“Sepuluh tahun kau akan aku tunggu, jika kau membawa cincin permata kepadaku.”

Sekarang sepuluh tahun itu sudah lewat, cincin itu sudah ada digenggamannya. Di bawah ceringin yang menjulang menghadap pertunjukan dangdut itu ia memarkirkan Jaguar-nya.

Pertunjukan itu dipadati pemuda-pemuda yang seperti dirinya dulu penuh antusias menontonnya. Dengan botol arak ditangan, mereka pasti akan mengejar ekstase nyanyian yang menanggalkan jantung otak.
Ini hiburan, hiburan yang akan membuat semua manusia melupakan kesulitan hidup. Buruh, tukang ojeg, atau pemuda pengangguran mendominasi lapangan pertunjukan. Menari ugal-ugalan bersama lelagu, mengantarkannya ke wilayah langit tanpa sadar. Melayang, bersama debu-debu yang dipaksa menari oleh kesenangan.

Ia akan menemui Marsyila di panggungnya, dan cincin permata itu akan ia sematkan bersama sawer sejumlah uang yang sudah ia persiapkan dikantong.

Ini terpaksa ia lakukan. Karena ia tak bisa menemui janda itu di rumahnya. Marsyila sedang ramai order organ tunggal dari beberapa hajatan. Atau memang Marsyila betul-betul tak mau menemuinya. Tapi Burman betul-betul mabuk kepayang. Dia akan menagih janji untuk segera menikahinya.

Tak mungkin Marsyila berubah pikiran atau melihat keadaannya sekarang. Burman seorang pemuda kaya sekarang. Burman bukan lagi seorang pemuda pengangguran seperti dulu. Marsyila pasti kagum melihat keadaannya sekarang. Dan oleh karenanya dia akan mau menerima lamarannya. Tetapi mengapa sampai saat ini Marsyila tak mau dan belum sempat menemuinya?

Penonton semakin riuh saat nama Marsyila di sebutkan. Seperti dulu meskipun umurnya sudah bertambah sepuluh tahun, Marsyila masih jadi idaman pemuda. Dan cahaya itu masuk meliuk ke muka panggung. Burman menghela nafas, melihat idaman hatinya. Rindunya semakin menggila.

Lelagu yang berasal dari hentakan sebuah electone bersama kesadaran sang pemusik telah berhasil membawa semua orang dalam satu titik kehilangan. Riuh menggelombang, jingkrak beriak-riak, teriakan memekakan menembus awan terik bersama matahari salang. Semua sudah ditakdirkan. Gelombang sudah dialirkan melalui corong waktu, berpendar pada sebuah speaker, Marsyila sudah hadir sebagai utusan kekuasaan langit.

Sementara disini Burman menggelegar cemas ingin menembus kehilangan menuju cinta yang sudah di dendangkan.
***

Aku tak mungkin mencintainya, mencintainya sama saja aku telah mencintai anakku sendiri. Marsyila dalam hatinya. Mobil buntung yang ditumpanginya memuat satu electone dan sebuah gitar listrik, bergerak menuju jantung pertunjukan.

Kemarin Burman hendak menemuinya di sebuah acara pernikahan, dimana pemilik acara mengundang Marsyila bernyanyi. Janda ini menghindar. Saat wajahnya di pulas eye shadow, bedak dan gincu pada bibirnya.

“Aku sedang sibuk, bilang sama dia. Aku tak mungkin menemuinya, sekarang!.” Seru Marsyila pada Gafar pemain gitar listrik. “Kasihan lo Mbak, dari kemarin ia cari-cari Mbak terus….”

“Nanti saja. Sedang tanggung, bilang saja tunggu di kedai makan depan rumah ini, selesai acara aku akan menemuinya.” Sementara seorang pemulas wajah terus mendandani Marsyila, tanpa menghiraukan kegusaran Gafar yang selalu diberi tanggung jawab untuk menghalangi pertemuan Burman dengan janda itu.

Saat itu Burman dengan gontai meninggalkan rumah tempat Marsyila di dandani dan memasuki sebuah kedai. Ia menanti dengan setia, sampai pertunjukan usai.

Tapi Marsyila tak juga kunjung datang. Ratapannya menyatu bersama asap kretek yang disesapnya berbatang-batang.
Sementara Marsyila sudah berlalu bersama mobil buntungnya pada pertunjukan yang lain.

“Mengapa sih mbak, kamu tak mau menemuinya?. Kasihan, dari kemarin dia cari-cari mbak terus.” Gafar membuka perbincangan di atas mobil. Tapi Marsyila malah kosong. Tatapannya hanya diarahkan pada benteng pabrik tekstil yang membentang hingga 3 KM. Di balik benteng itulah para penggemarnya hidup bekerja sebagai buruh kontrak.

Sudah sepuluh tahun pabrik itu berdiri di kampung ini. Tapi belum juga membawa perubahan terhadap penduduk kampungnya. Apalagi sebagian besar buruhnya, hidup dalam bayang-bayang perjanjian kontrak. Jalan yang melintas di pabrik itu saja masih berbatu dan berlubang.

Dulu Kepala Desa pernah menanggap Marsyila saat meresmikan pabrik itu. Dia pernah bilang bahwa berdirinya pabrik ini seperti kemeriahan acara organ tunggal, adalah pertanda kemajuan kampung. tapi seperti sudah di lihat Marsyila, kemajuan itu belum juga terlihat, apa memang dengan dirinya sering tampil di beberapa acara yang digelar oleh kantor desa atau pemerintah setempat, adalah kedok bagi pembuktian kinerja pemerintah yang dikatakan sudah berhasil?. Atau sekedar menjadikan organ tunggal alat untuk meninabobokan kesulitan hidup jelata?.

Mematikan pikiran mereka yang gelisah atas hidup yang semakin sulit?.
Ekspansi industrialisasi ke desa telah membuat masyarakat desa terpinggirkan, karena nyatanya justru banyak para perantau yang dipilih menjadi pekerja di pabrik itu, dan seperti halnya Burman, pada akhirnya penduduk kampung memilih pergi ke kota dari pada bertahan hidup di desa. Burman adalah salah satu contoh manusia urban yang berhasil hidup di kota, selebih mereka merana tinggal di sana.

Di ujung benteng pabrik sekelompok ojek menghiba-hiba Marsyila. Mereka sudah sangat mengenal mobil itu.
“Marsyila, janda montok!.”
“bahenol.”

Marsyila hanya menelan ludah jika direndahkan seperti itu. tetapi toh wajar, tarian eksotis yang selalu ditampilkannya telah membuat orang-orang berpikir negatif padanya.

Coba kalau dia memutuskan menikah. Maka tak akan ada lagi citra negatif itu . Setidaknya ia akan dihargai sebagai istri orang. Sebulan yang lalu seorang duda berniat melamarnya. Tapi Marsyila menolaknya. Ia seorang Sekretaris Camat. Waktu dia hendak melamarnya, Duda itu malah mengarahkan pandangan gasang pada anak gadisnya yang masih remaja. Maka dia tolak mentah-mentah lamarannya.

Itulah kekhawatirannya pula terhadap Burman. Lelaki muda itu pastilah memendam gejolak berahi. Dan Marsyila semakin tak percaya pada cinta. Ia hanya mencintai kedua anak gadisnya. Sudah 15 tahun mereka ditinggal bapaknya, pergi memilih wanita idaman lain.

Burman khawatir akan tertarik pada anakku sendiri. Setelah aku semakin tua dan tak dapat memuaskan berahinya. Jaman sekarang seperti banyak diberitakan di televisi, bapak kandung saja tega menggagahi anak gadisnya, apalagi bapak tiri? Muda pula.

Tapi teringat pula dalam benaknya, betapa Burman adalah seorang lelaki diantara sekian lelaki yang tergila-gila padanya. Jujur saja, Marsyila takjub dengan Pemuda itu, cintanya telah mampu membuatnya menjadi seorang lelaki tangguh.

Tersiar kabar, pemuda itu hidup dari limbah-limbah pabrik di kota. Membelinya dan menampungnya di gubuk bedeng triplek yang kumuh. Burman dapat menjual limbah itu ke pabrik lain dengan harga tiga kali lipatnya. Sepuluh tahun bergelut dengan sampah Burman sudah berhasil menjadi lelaki kaya raya.

Tapi cinta bagaimanapun akan menemui turunan saat ia berhasil menjamah puncaknya. Ia tak percaya pada cinta abadi. Baginya cinta tak lebih dari refleksi kekuasaan semata. Seperti suaminya yang telah tega meninggalkannya karena kepincut gadis muda. Betapa cinta adalah upaya penguasaan atas manusia lainnya, sementara yang lain harus berserah diri. Cinta tak pernah adil, baginya.

Apa yang dikenangnya terlintas, saat mobilnya melalui tikungan jalan. Ia teringat pada Burman saat ia menyanggupi agar menjadi lelaki kaya sebelum dapat menikahinya. Lelaki polos itu kemudian menyanggupi. Tawa Marsyila, menyertai kepergian pemuda itu: memangnya mudah menaklukan kehidupan!. Seru marsyila.

Tapi kemudian semua yang diyakininya juntai. Burman ternyata mampu menaklukan kehidupan.

Dan apakah ia akan mampu menaklukannya pula?. Entahlah, sudah berkali-kali ia berkelit dari pemuda itu, untuk tidak menemuinya.
Mobilnya sudah sampai pada tempat tujuan. Terdengar sayup-sayup suara seorang kepala desa bergetar pada speaker:

“Saya sebagai utusan masyarakat, mempersilahkan semua warga untuk menikmati sajian ini, untuk mensyukuri terpilihnya kembali saya dapat memimpin desa ini selama lima tahun ke depan. Terima kasih atas kepercayaannya kepada saya dapat memikul tanggung jawab ini.”

Tepuk tangan pun riuh menggema di lapangan. Marsyila kemudian menguasai Panggung, bersama gafar gitaris dan Lukito pemain Organ. Sementara para pamong duduk rapi di tenda, mendapat tempat kehormatan.
***

Lelagupun riuh terdengar ditelinga bersama jingkrak para penonton. Burman bersiap-siap menembus barikade itu.

Dari kejauhan Marsyila mengetahui gerak-gerik Burman. Lelaki itu akan menjangkau panggungnya. Tapi Marsyila tak mau itu terjadi. Apa yang akan dilakukan Burman, Marsyila tak mengetahuinya pasti, yang jelas sampai saat ini marsyila belum mau menemuinya.

Penguasaan atas panggung dan musik membuat Marsyila menguasai keadaan. Dia akan membuat seluruh penonton berjingkrak hebat, dengan ritme yang cepat.

“Ayo joged. Lebih gila lagi. aku persembahkan kepada kalian, Kucing Garong.”

Teng…teng….teng…tet..teet… tet… tetet. Dangdutpun semakin gila. Jingkrak segerombolan pemuda semakin tak terkontrol.
Sementara Burman terus berjuang diantara keramaian itu. Mengikuti ritmis lagu dan jingkrak. Sedikit demi sedikit Burman berada dijantung ekstase. Sikutnya mulai membabi buta menghela jingkrak yang sudah semakin meradang. Satu persatu pemuda ia jatuhkan. Jerit para ibu-ibu rumah tangga dan anak perawan mulai menggema.

Marsyila terus meracau bersama getar speaker. Menguasai keadaan berupaya menghadang Burman. Semakin gila goyangnya semakin gila penonton berjingkrak. Tapi cinta ada di runcing sikut Burman satu persatu pemuda dia jatuhkan.

“Marsyila, ini Aku…!.” Teriak Burman. Tapi sebelum mencapai panggung semua penonton sudah mulai meledak terkena sikutan Burman.
“Anjing!.”
“Goblok!.”
“Setan!.”
Mereka mulai menyerang Burman. Seorang pemuda melemparkan botol dengan penuh nafsu. Burman mengelak, botol itu mengenai orang lain yang ada dibelakangnya. “Asu!.” Maka saling serang terjadi diantara penonton. Meninju, menyikut, menendang pada siapa saja.

“Dor!.” Seorang petugas polisi menembakan pistolnya ke udara. Tapi kekacauan terus berlangsung. Burman hilang ditelan kerumunan. Marsyila menghentikan nyanyiannya. Satu persatu dilihatnya korban terinjak-injak keluar dari kekacauan itu, ditandu menuju ambulan yang meraung di sisi lapangan.

Mobil huruhara datang. Mobil patroli polisi datang. Mobil kavaleri datang. Pemadam kebakaran datang. Anehnya kemudian kekacauan berlangsung antara kubu aparat keamanan dengan warga. Dan akhirnya penyebab kerusuhan akhirnya digusur. Bukan Marsyila si penguasa panggung, Tapi mereka yang berjibaku di lapangan.

Kemana Burman?. Entahlah. Bisa jadi dia dibawa ambulan atau polisi. Tapi sudah lama jaguar-nya pun menghilang dikaki ceringin.
Dengan luka-luka memar diwajah dan tubuhnya ia hendak mendatangi Marsyila yang sudah lebih dulu beringsut dari keramaian itu. Aku akan meminta pertanggung jawaban, aku akan memaksanya mau menikah denganku. Bukankah dia sudah berjanji kepadaku dulu?.

Malam pun merayap. Marsyila mendekap kedua anak gadisnya. Pertunjukan telah usai. Tapi pertunjukannya dengan Burman baru dimulai. Di luar Burman masih saja mengintai Marsyila, menunggu saat-saat pertemuan akan di lewatkan.

“Aku tak mungkin mencintaimu Burman, mencintaimu sama saja dengan mencintai anak bujangku sendiri.”
***

Cikarang, 31 Januari 2010

Juara II kategori umum
Lomba menulis cerpen Quantum Literiti Center (QLC)

Cerpen

Kisah Orang-orang Pinggiran*

Sengaja aku ambil cuti selama empat hari. Selain ingin mengendurkan urat syarafku menghadapi segala keruwetan tugas kantor, aku ingin belajar riset untuk bahan menulis sebuah karya.

Maka aku pilih kampung istriku, Talaga. Kampung yang masih asri itu cukup memberi kenyamanan untuk refresh.

Hari ke-1
Ditengah gerimis, saat anak-anak bertelanjang dada, bersukaria dengan pucuk-pucuk kuarsa langit, aku menulis disebuah saung beratapkan ilalang:

Si Diman, keponakanku, penderita polidaktili, seolah tidak pernah peduli dengan jumlah jemarinya yang enam. Orang-orang kampung tahu, bahwa polidaktili itu penyakit kutukan. Bapaknya sering judi sabung ayam, saat ia masih dalam kandungan. Disimbolkan dengan jemari ayam yang tak beraturan dan bertonjolan, kelahiran Diman dengan jumlah jemari yang tidak biasanya, adalah akibat dari dosa sang Bapak.

Sekarang dia sedang berlari-lari di pematang sawah yang tanahnya mati suri selama musim kemarau, kini remah oleh hujan. Lincah sekali dia membawa bola. Layaknya seperti pemain professional.

Pekikan dan tawa deras membuncah dimulut anak-anak itu ketika Diman terjatuh karena tak dapat menahan keseimbangan dari tanah yang ia pijak untuk berlari. Tapi tak lama ia berhasil menggolkan bola ke gawang lawan.

Sekilas permainan bola anak-anak ini seperti upacara menyambut hujan. Sudah lama hujan tak menumbuhkan padi-padi mereka untuk dijadikan sekedar tempat bergantung hidup. Maka seketika hujan turun, riuh anak-anak menyambutnya dengan suka cita.

“Besok Bapakku akan pulang!.” Seru Diman kepadaku setelah selesai berjibaku dengan hujan dan lumpur.
“Loh dari mana tahu Bapakmu akan pulang?.” Tanyaku padanya.
“Kalau hujan turun, bapak akan tinggal di Kampung, bantu Abah garap sawah,” Air dan lumpur bersatu di tubuhnya.
Aku merasakan bahkan yang berbicara itu hujan dan tanah. Hujan dan tanah mengabarkan bahwa ketika mereka bersatu, ada harapan anak-anak desa akan menemukan bapak-bapaknya yang kembali dari kota. Seperti ketika hujan bertemu dengan retak-retak tanah.

Sawah tadah hujan memang telah membuat hampir semua bapak di kampung merantau ke kota. Berubahnya fungsi lahan menjadi tanah kosong selama musim panas, tak menerbitkan huruf-huruf kehidupan ditiap jengkalnya.

Tidak terkecuali bapaknya Diman, ia pergi berjualan pakaian loak. Itu lebih baik dari pada meneruskan kebiasaan sabung ayam yang ditentang syariat.

“Ibumu, bagaimana?.” tanyaku, “apa ia hendak pulang juga dari Arab.?”
“Ibu pulang tahun depan, bawa uang banyak, dan ibu akan menyuruh bapak tinggal saja didesa, garap sawah dengan Abah. Buat apa Bapak pergi jauh-jauh ke kota, jika nanti kami sudah punya banyak uang.” Jawab Diman sambil mengusap-usap raut mukanya yang bulus oleh air hujan.

Selain ditinggal Sang Ayah, Diman dipeluk mesra oleh kesepian ditinggal Sang Ibu. Ibunya gerah melihat usaha suaminya di kampung, hanya mengandalkan sabung ayam dan sawah tadah hujan.

Ia tergiur keberhasilan para istri tetangga, sukses setelah hidup di Arab menjadi TKW. Tapi entahlah langit memuat kabar ambigu di kemendungan. Kabar Sang Ibu tidak jelas. Apa dia hidup bahagia di Arab atau sebaliknya?.

Tapi Diman tak pernah kecil hati. Ia merasakan kehilangan kedua orang tuanya hanya sementara untuk membawa kebahagiaan.

Hari ke-2
Di kebiasan pagi, saat cangkiang diselimuti kabut hitam, aku menulis:

Sujatma, Ayah dari istriku bersemangat membajak sawah, menanam gamak-gamak padi di bentangan tanah merah yang remah oleh hujan kemarin. Diberilah ornamen oleh gebalau dan lenguh kerbau.

Mataku berpijar menghadap ramai para petani menggarap tanah, seperti alap-alap aku menyeringai dengan pena-pena tajamku di jemari.

Seorang lelaki paruh baya menyeringai di galangan. Aku kenal dia. Dia kakak ipar istriku.

“Bah, sebentar bisa bicara?!.” Seringainya.

Yang di panggil bersijingkat menaiki galangan, dan berjalan memutar menuju arah yang memanggil.

“Ada apa, Jang?,” tanya Sujatma.
“Maaf seharusnya tanah ini tidak digarap lagi.” Ketus Iparku.
“Loh, kenapa?”
“Tosyar, kemarin sudah jual tanah ini, ke saya.”
“Tosyar?, apa alasannya?!.”, Sujatma galau, cangkul di gantung di pundak. Dan beringsut kearah saung. Sementara aku masih mengawasi di sebaris cangkiang, tak jauh dari saung, terus mengawasi fragmen menarik ini.
“Saya tidak tahu alasannya.” Jelas iparku. Kemudian ia menyesap sebatang rokok.
“berapa Tosyar jual tanah ini?.” Sujatma kembali bertanya dengan nyinyir.
Kemudian Iparku menjawab dengan sederet angka.
“Anjing!, semurah itu?, Anak durhaka!.” Murka Sujatma. “kalau hilang tanah ini, mana bisa aku kasih makan anaknya!.”
Kawanan bebek melintas diantara pembicaraan mereka. Berpuluh-puluh mata petani mengawasi kepedihan yang menggurat di kening Sujatma.

“Garap saja, Bah, kalau mau!, ambil saja bagian untuk Si Diman, barang segantang-dua gantang, sisanya mau…”
Suara iparku ditimpa koak bebek.

“Anjing!, mana bisa kalau tak jual padi?. Apa Si Diman harus berhenti sekolah?!”. Sujatma geram. Ia hendak menghantam iparku dengan cangkul. Beruntung para petani melerai. Termasuk aku. Pada fragmen ini aku berhenti menulis, gamang melihat keributan itu.

Iparku kemudian beringsut kearah mobilnya dan memacu kendaraan dengan bising. Asap knalpot berpadu padan dengan kabut segar.

Istriku yang menawan dapat menenangkan mertua. Di ruang lengang rumah kampung kami, bapak menyangga peluh kepalanya dengan galau, lagi-lagi istriku terus mendesaknya sekedar istigfar.

Ada mata nanar mengawasi. Si Diman dengan gontai berjalan kearah kakeknya. Ada keprihatinan dalam riam pandangannya. Jika Diman telah dewasa ia akan meminta maaf karena perlakuan ayahnya telah membuat kakeknya geram. Tapi apa yang bisa dikatakan bocah sekecil itu.

“Minggir anak ayam!, semuanya ini ulah bapakmu!.” Teriak kakeknya kepada Diman.

Diman pergi menjauh, kemudian ia pamit mencium tanganku untuk bersekolah.
Aku beri dia uang, sekadar cukup buat jajan. Jemarinya yang berjumlah enam mengambil uang itu dengan lembut. Kemudian menghilang di balik pintu.

Iparku adalah orang kota pensiunan PLN. Ia pernah berikrar kalau dengan uang pensiunannya ia akan membeli semua tanah di desa. Aku senang mendengar itu, karena tanah-tanah dahulu yang pernah di miliki leluhurnya dan mertuaku akan kembali ketangan keluarga kami, setelah bertahun-tahun lamanya dikuasai oleh orang-orang diluar silsilah keluarga kami.

Tapi perangainya mulai kelihatan buruk, ia tak mau berbagi keuntungan dengan petani penggarap secara adil. Seperti tanah yang sudah ia beli lebih dulu. Para petani hanya diberi hasil panen cukup buat makan saja.

“Dimana kang Tosyar bertemu Kang Buyak untuk menjual tanah bapak?,” tanya istriku, sambil menyiapkan teh hangat di meja makan tempat kami akan melangsungkan perbincangan.
“Pasti di kota.” Jawab mertuaku.
“mereka bertemu di kota?.” Tanya istriku.
“Mungkin, yang jelas Si Buyak tadi memperlihatkan bukti pembeliannya.” Jelas Mertuaku.
Aku tecenung, dan ambil ancang-ancang untuk bicara. “Masih ada tanah sawah yang di tonggoh, kan Pak?”
“Sudah di jual, ditukar dengan televisi dan parabola punya Pak Kades.” Jawab Sujatma.
“Haaaah”, istriku heran.
“Ya, Ampun, kalau itu, bapak kan bisa minta ke aku, ga usah jual-jual tanah segala….” Lanjut istriku.
“Bapak kesal hujan tak juga turun, dari pada tak pasti, sudah dijual saja tanah itu. Tadinya televisi untuk hiburan. Untuk cari makan masih ada tanah sisa di landeuh.”

Senyap. Perbincangan yang mulai memanas disegarkan oleh kucuran teh yang berceruluk di lubang ceret. Kami bertiga tepekur, mencari kemungkinan solusi yang bisa menyelesaikan masalah. Tapi nihil untuk sementara ini.

Hari ke-3
Pada renyai hujan dan gelegar petir aku masih terus menulis tentang kisah-kisah orang-orang pinggiran, keluh kesahnya cukup jelas di telinga:

Pintu rumah kayu kami diketuk seseorang berjubah kuyup. Diman membuka pintu, ada lesung kegembiraan dipipi tebalnya. Bapaknya Tosyar pulang.

Berbeda dengan Diman, Sujatma geram kedatangan anaknya. Ia langsung mengahambur keluar dengan murka didalam darahnya.

“Hai, tak sudi aku kedatangan anak durhaka!.” Murkanya.
Tosyar mundur beberapa langkah. Sementara Diman terpental kesudut ruangan. Aku menggendongnya. Dan segera menyuruhnya masuk ke kamar.

Kemudian entah kemasukan syetan apa Sujatma menerjang Tosyar dengan kibasan golok. Aku terpaksa beringsut dikeramaian itu, dan berusaha menenangkan.

“Istigfar, Pak, kita tanya dulu mengapa…”.
Tapi Sujatma terlanjur murka. Dan kembali menerjang Tosyar. Istriku histeris meminta pertolongan. Tetangga segera berkerumun ke rumah kami. Beruntung tak ada kibasan golok mengenai tubuh Tosyar.

“aku tak sudi anak itu disini!”
“Pergi!”
“tanah warisan kau jual sebelum aku mati….”
Pekik mertuaku.

Aku terpaksa membawa jauh Tosyar dari rumah. Menyembunyikannya di sebuah gubuk. Aku menyarankan agar dia jangan dulu bertandang ke rumah. Karena hari beranjak larut, dia berinisiatif untuk bermalam di dalam gubuk. Entah gubuk galangan punya siapa.

“Aku terpaksa menjual tanah itu, Mang….” Tosyar, iparku membuka perbincangan. Suaranya parau memecah kedinginan.

“Modalku habis.” Lanjutnya.
“Tapi Akang harusnya hubungi Ceuceu di Arab, barangkali hasil keringatnya bisa bantu Akang usaha.” Kataku.
“itulah, Mang, kemarin aku dapat kabar dari dia”
Kuputus perkataanya, sekedar menampakkan aksen senang mendengar kabar ipar perempuanku dari Arab.
“Syukurlah…”
“dengar dulu, Istriku menyuruhku melupakkannya dan menikah lagi, karena dia sudah berselingkuh dan hendak menikah dengan lelaki TKI asal Tasikmalaya!” jelasnya.
“Astagfirullah!”. Aku terkejut.
“Dia juga tidak mengatakan akan mengirimkan uangnya!.” Seru iparku.

Desir angin menguliti seluruh tubuh kami, semua pandangan kami berdestar pekat kabut dari bebukit yang berundak-undak menuju gunung.

“tapi bukankah dengan menjual tanah sawah dengan murah, kehidupan keluarga kita kedepan jadi suram?.” Tanyaku.

Tosyar menyulut kretek lembap dari sakunya. Kemudian parau suaranya dicacah-cacah kerotak hawa dingin yang menggila di tubuh.

“Aku terlibat hutang rentenir, usahaku habis, aku terpaksa menjual murah tanah Bapak, karena tanah itu bagian warisku”. Jawabnya.

“Bapak pernah bilang, kalau itu tanah warisan Akang?”

“semua anak lelaki sudah kebagian. Akrul kebagian sebagian tanah di tonggoh, sudah dijual untuk menyekolahkan anaknya, sementara Abing mendapatkan sebagian tanah yang di landeuh, itu juga sudah di jual untuk biaya menikah. Istrimu dan kakak perempuannya sudah dipatok untuk mengurus rumah Bapak. Dan aku… meminta bagian tanah sisa yang di landeuh.”

“Aku kepepet, dan menjual tanah itu pada Buyak dengan harga murah.”

Kami kemudian terdiam, hawa dingin terlampau menguasai perbincangan kami. Tosyar kemudian rebahan di bale-bale gubuk itu, entahlah apakah dia bisa terlelap dengan hawa menusuk sedingin itu?. Dan aku kembali ke rumah. Dengan lampu genggam di tangan, sehingga aku dapat menguasai jalanan dengan gontai.

Hari ke-4
Liburanku segera berakhir, karena cutiku hampir habis. Langit berhiaskan selumbar fajar yang kuning membahana. Aku segera beranjak untuk pulang ke kota. Saat aku datangi gubuk dimana Tosyar bermalam, iparku itu sudah tak ada lagi di tempatnya, entah kemana.

Semua fragmen sandiwara kehidupan di kampung sudah aku rekam dalam sebuah kertas. Semoga ini menjadi naskah tulisan yang dapat dibaca para elit di kota. Naskah yang memuat kabar penderitaan orang-orang pinggiran.

Aku bukan penulis kisah inspiratif yang baik. Inspirasi positif tidak akan didapat dari gurat-gurat kisah yang menjerit. Didalamnya mengandung ketidakpastian hidup. Karena cerita orang-orang pinggiran selalu tragis.

Inilah alasan aku menulis, aku ingin menulis penderitaan orang-orang yang dilupakan sejarah. Orang-orang yang dipinggirkan para elit di kota. Tapi apakah dengan aku menulis, lalu bertambahlah orang yang peduli pada ketertindasan setelah membaca karya minus ini?.

Atau aku telah mengekploitasi kemiskinan, untuk membangun naskah ini demi sebuah lomba atau honor menulis disalah satu media?

Ah, aku berharap para pembaca bukan sekedar memberi pengertian, tapi aksi, aksi memikirkan bagaimana kemiskinan di desa berkurang sehingga tak ada lagi kisah tragis: anak-anak yang ditinggal ibunya ke Arab, para suami yang gamang ketika kemarau meradang, dsb, dsb.

Aku yakin dengan gemburnya tanah, suburnya tetumbuhan di desa, hijaunya hutan adalah modal kehidupan orang desa bisa sejahtera. Persoalannya seberapa banyak para intelektual memikirkan penderitaan ini?. Seberapa banyak para intelektual peduli…

Aku menyetop sebuah elf. Jalanan masih basah oleh sisa air hujan. Diman mengantar kami sampai ujung jalan raya. Dalam pandangannya aku melihat ada keinginan untuk ikut serta. Tapi kami tak mungkin membawanya. Sekolahnya baru selesai tahun depan, di samping bapak mertuaku melarangnya. Meskipun sering kasar sama anak pengidap polidaktili ini, ia masih punya rasa sayang. Kesepian akan menjangkiti masa tua bapak, kalau anak ini pergi.

“Teteh, kalau ketemu bapak dikota sampaikan, segera pulang dan belikan baju baru untukku!,” teriak Diman kepada istriku sebelum angkutan kami beranjak pulang. Beruntung istriku berhasil menggapai tangannya di jendela, dan menyematkan uang yang cukup buat dia beli baju.

“Diman juga kepengin baju dari ayah!.” Teriaknya lagi.
Kami mengiakan dan kendaraanpun berpacu kecepatan. Kami meninggalkan kampung itu tanpa menoleh kebelakang untuk yang kedua kalinya.

Ah, akhirnya aku dapat menyelesaikan tulisan ini. Meskipun masalah dalam kisah ini belum juga selesai. Seperti semua balada penderitaan orang-orang pinggiran yang tak pernah selesai. Tak pernah berhenti di dera ketertindasan…

Aku akan kembali ke kampung istriku di Talaga. Mencoba mengurai kesulitan orang-orang desa dengan kemampuanku sebagai penulis. Tapi kudengar Alm. Rendra berujar:

Bersumpahlah…
Jangan buat karya sastra
Gajinya tak seberapa

Apa honorku nanti sebagai penulis bisa membebaskan orang-orang desa dari ketertindasan?. Atau aku harus menjadi politisi? Atau pebisnis?.

***
Talaga, 1 Februari 2008
M Taufan
Taufanmuhammad9@gmail.com

*Cerpen, Juara ke 2 Trophy Walikota Bekasi (FLP Bekasi).

Essay

Politik sastra: dari awal mula kehendak kuasa atas teks hingga kepemimpinan.

Saya menonton sebuah acara humor di televisi. Budi Anduk diceritakan datang menghampiri seorang anak yang hendak menyeberang. Tapi sejak lama anak itu tak mau juga menyeberang. Ditanyakan oleh Budi, mengapa anak itu tidak juga menyeberang, anak itu menjawab, dia diwanti-wanti oleh ibunya, bahwa kalau menyeberang dia harus menunggu kendaraan di jalanan itu lewat.

Budi Anduk tersentak, bahwa jalanan yang akan diseberanginya itu sepi oleh kendaraan, jadi mengapa mesti tunggu kendaraan itu lewat. Anak itu tetap kékéh, dia harus ikut amanat ibunya, tunggu dulu kendaraan baru lewat.

Akhirnya Budi Anduk mencontoi anak itu. Jalanan sepi itu ia seberangi. Tapi akhirnya yang terjadi Budi malah terserempet sebuah sepeda motor. Anak itu tertawa, “apa aku bilang?, aku harus denger kata ibu. Tunggu mobil lewat baru nyebrang.”

Ini bukan humor tanpa isi. Ini humor dengan pesan yang kuat. Jika amanat ibu itu ditulis maka ia menjadi semacam teks. Apa teks itu adalah semacam energi yang menguasai setiap gerak manusia?. teks bukan akhir segalanya. Karena teks harus menjadi semacam inspirasi atas pengalaman hidup manusia, atau teks dapat berubah karena pengalaman yang dirasakan pembaca menemukan apa-apa yang berlawanan dengan teks itu sendiri.

Fenomena Budi Anduk ini semacam upaya tafsir atas perintah tak tertulis, bahwa teks (bahwa jika ia menjadi perintah tertulis) tak akan bermakna apa-apa kalau dia tak dapat diterapkan kedalam pengalaman kehidupan. Teks harus hidup. Jika teks memendam roh penulisnya, maka roh itu harus berpindah kepada pembacanya (Hudan Hidayat).

Sepakatlah kita bahwa teks harus mendapatkan yurisprudensinya. Disini teks sudah menjadi simbol jejak kuasa manusia. Abstraksi perintah menjadi sebuah tuntutan bahwa manusia harus menjadi utuh atas teks.

Yurisprudensi, bukan sekedar pemahaman individu atas teks. Tetapi konsensus, atas sejarah yang berlangsung saat teks itu lahir, serta upaya logis dan analogis dalam memahami sebuah teks. Yurisprudensi ini sering dilakukan oleh pihak agamawan dalam menentukan fatwa agama. Tapi dalam hal ini, konsensus bukan berarti tidak menghasilkan konflik. Dalam wacana agama, demokrasi tak selalu berjalan mulus. Dalam memutuskan suatu keputusan perlu kepemimpinan yang bijak dan bajik, sehingga musyawarah diupayakan tak mengarah kepada voting.

Voting bukan mediasi haram, tetapi kepemimpinan lebih penting daripadanya. Karena keadilan dalam hal agama harusnya memautkan kebijakan, bukan suara terbanyak.

Kita melihat kebingungan atas teks menjadi semakin menggila ketika kekuasaan atas teks diselewengkan dalam prinsip-prinsip kebebasan. Teks tak pernah lepas dari petanda dan penanda (Levi-strauss), petanda didalamnya menjadi —dan ini klasik— multi tafsir. Kuasa atas teks menjadikan simbolitas dalam teks direduksi menjadi energi manusia untuk semakin berkuasa.

Kisah hidup Syeik Puji yang menikahi anak dibawah umur jadi perdebatan. Ketika secara hukum positif Syeik ini dianggap melanggar hukum. Hukum agama dan ilmu pengetahuan menjadi beradu, berhantaman dalam konflik. Ilmu pengetahuan merunut, bahwa pelanggaran itu telah terjadi, karena anak dibawah umur kalau melakukan hubungan seksual akan mendapatkan dampak yang hebat bagi psikologi serta medisnya baik sekarang dan masa depan.

Tapi bagi Syeik, yang bermukim di desa jelaslah tidak pernah membaca buku-buku ilmu pengetahuan modern, tentang Undang-undang perlindungan anak misalnya, Syeik justru merasa dilegitimasi oleh teks sejarah, atas kehidupan Nabi dahulu yang menikahi Aisyah dibawah umur. Kita tentunya tidak akan mengumpat, bahwa Syeik itu tak memahami perkembangan sejarah, karena seperti dijelaskan tadi, Syeik mana tahu tentang perkembangan ilmu pengetahuan. Yang dipeganganya adalah pengetahuan agama. Dan itu benar menurutnya, dan sebagaian orang.

Kita juga pernah mendengar parodinya Kwik Kian Gee, tentang seorang professor, seorang anak sekolah, dan anak nelayan. Profesor itu bertanya. “berapa kali katak meloncat jika satu kali loncatan adalah satu meter sementara lebar kali adalah empat meter?.” Anak sekolah menjawab dengan pasti empat loncatan. Professor itu bangga bukan main.

Tapi apa yang menjadi jawaban seorang anak nelayan yang biasa nongkrong dikali, karena memang pekerjaannya memancing. “Dua kali pak!,”

“bisa begitu?.”
“Karena saat meloncat pertama kali katak menyelam sejauh satu meter, dan menyembul untuk yang kedua kalinya langsung meloncat.”

Kwik menjelaskan, bahwa teori seharusnya berasal dari pengalaman. Dan teori harusnya sesuai dari pengalaman. Tapi teori bagaimanapun pragmatisnya, selalu diwarnai sejarah dan kepentingan atau ideologi sang ilmuwan dalam menyimpulkan teorinya.

Oleh karenanya tak ada teori atau teks yang lepas tafsir. Termasuk ilmu fisika sekalipun. Teori kecepatan cahaya misalnya, karena memang belum ada teknologi percepatan yang dapat mengejar kecepatan cahaya, maka kita dapat menghitung kecepatan cahaya melalui jumlah tahun cahaya.

Maka apakah kita merasa yakin bahwa bintang gemintang diawan belum meledak?. Teori relativitas misalnya mengatakan bahwa sudut pandang menentukan besaran kecepatan, apa yang kita lihat disini kecepatannya tidak akan sama jika kita berada di bulan. Bintang gemintang yang kita lihat bisa saja sudah tabrakan dua ratus tahun yang lalu, hanya karena berada pada sudut pandang bumi kecepatan ledakan itu menjadi sangat lambat beratus-ratus tahun lamanya.

Nah, segala fenomena semacam itu adalah energi manusia untuk menuliskan teks sesuai pengamatannya. Manusia berkuasa atas teks, berarti berkuasa atas fenomena alam termasuk kepada teks yang ada sebelumnya.

Jadi, runutan yang baik bagi hadirnya bacaan bagi pembaca adalah membuat pembaca terberdayakan, dalam arti teks harus membawa pembaca menjadi pembaca yang aktif dan kritis. Dan saya pikir puisi melatih pembaca bagaimana menguasai naskah puisi yang kaya ambiguitas dan absurdisme. Menguasai naskah puisi berarti menafsir. Menguasai naskah puisi berarti membawa kesan baik dalam puisi untuk menarik hal-hal inspiratif kedalam kehidupannya. Menguasai puisi berarti memahami adanya semangat didalamnya bahwa setiap teks tak bisa dilahap tanpa nilai kritis, karena tiap teks adalah integral dari praktik hidup itu sendiri.

Oleh karenanya setiap naskah puisi yang ditulis haruslah memuat kemungkinan-kemungkinan yang tak mungkin terjadi. Seperti parody Budi Anduk dan seorang anak diatas. Ada saja kemungkinan yang terjadi jika dia melanggar perintah dari sesuatu yang tertulis ataupun tidak.
***

Karena sebuah teks pasti menimbulkan Konsensus bagi penafsirannya. Maka teks menjadi terpolitisasi atas kepentingan golongan yang berusaha menafsirkan.

Tak terlepas puisi. Puisi melepas semua tafsir kepada pembaca secara individu. Adapun setiap golongan yang mencoba berusaha membedah maksud dari isi puisi yang ditampilkan, keputusan penuh ada pada pembacanya.

Maka dengan ini munculah politik sastra. Kekuasaan berada ditangan para kritikus dan penyair.

Dalam sastra kekuasaan terjadi. Kepemimpinan bukan hal yang nisbi dalam bidang apapun. Kepemimpinan menggiring pembaca dan penikmat puisi dalam kerangka pikirnya baik dalam membaca maupun memahami sebuah naskah puisi yang telah ada.

Tapi bukan hal yang mudah menggandeng kata politik dengan sastra. Politik bermuara pada kekuasaan, sementara sastra pada keindahan. Jadi politik sastra bukan hanya persoalan konflik lintas komunitas, tapi semacam pemeraman kehendak kekuasaan pada pengikut-pengikut sebuah komunitas.

Ini nampak keras, tapi itulah politik. Ada kup, ada koalisi, ada aliansi, ada konspirasi. Sementara sastra mengajarkan keindahan, politik justru terkadang antitesisnya, menghancurkan. Menghancurkan dalam arti ada saat-saat dimana kepemimpinan dapat ditelikung karena sudah tidak sesuai lagi dengan kehendak massa. Tantangan politik bukan hanya diluar tetapi didalam.

Ini ngeri. Tapi memang kenyataanya tak bisa dilepaskan dari itu. Acep Zamzam Noor mengatakan bahwa seniman yang baik adalah mengupayakan bagaimana menciptakan musuh. Berarti seorang seniman tak pernah eksis jika tak ada musuh diluar dirinya. Ini positif sebab, dalam hal daya cipta kita memerlukan saingan, saingan akan membuat kita akan menciptakan sesuatu yang belum pernah diciptakan pesaingnya.

Kehadiran komunitas yang saling bersaing sah-sah saja, sejauh komunitas dapat membimbing para pengikutnya menuju kemandirian berkarya. Menjadikan pengikutnya benar-benar berkuasa atas teks yang melintas dikepalanya sebagai bahan baku penulisan puisi. Menjadikan pengikutnya benar-benar mandiri dalam memahami sebuah naskah puisi. Sebab puisi memang begitu adanya, menuntut orang berkuasa atas puisi yang dibacanya, prihal penafsiran, warna dsb.

Kemandirian atas penafsiran dalam simbol bahasa maupun upaya penciptaan simbol adalah urgensi. Kita sudah bosan mendengar golongan tertentu dalam dunia politik menafsir tanda-tanda pada teks Pancasila dan UUD 1945 demi kepentingannya.

Undang-undang, fatwa, Perda, pencitraan politik adalah proyek hiperealitas yang ditampilkan demi kepentingan golongan tertentu yang dirancang sebelumnya dalam sebuah konsensus yang merumuskan sebuah payung perlindungan suatu kelas masyarakat.

Meskipun tidak semua produk politik berunsur negatif. Tapi abstraksi teks konstitusi dan dominasi kekuatan politik memberikan ruang para politisi untuk membuahkan pasal-pasal karet, Perda yang memayungi kepentingan pengusaha, fatwa yang merusak pruralitas kebangsaan. Dsb.

Sastra harus bersih dari kepentingan itu, terlebih puisi adalah satu diantara deretan proyek hiperealitas yang peka terhadap kondisi sosialnya. Dengan membangun kemandirian para aktivis sastra terhadap penciptaan dan penafsiran simbolitas yang ada di dalam puisi, pun terhadap teks yang hadir sebagai bahan baku puisi. Sehingga ia akan bebas dan tidak takut merenung dan berpikir.

Konsensus dalam perhimpunan itu perlu sejauh memberi ruang bicara pada setiap simpatisan, pelaku seni sastra, dalam mengkritisi arah-jalan perjuangan, yang tentunya akan membentuk kemandirian individu itu sendiri.

Politik sastra. Ngeri memang. Tantangannya bukan hanya diluar tapi didalam, tetapi memang secara ril ini sedang terjadi. Dalam politik tak ada musuh yang abadi dan teman yang abadi. Saya jadi ingat hadist, “jangan kamu membenci sesuatu terlalu benci, karena bisa jadi yang dibenci itu ke depan akan kamu sukai, begitu juga sebaliknya”.

Politik sastra. Suatu hal yang positif jika setiap elemen akan memahami dan mempelajari ideologi kutub-kutub yang berlawanan. Tapi akan sangat mencekam jika politik sastra adalah sterilisasi, ekstrimitas, dan radikalisme sektarian terhadap perhimpunan lawan politiknya.

Adakah politik sastra itu?
Atau sekedar angin berhembus?

Tabik!
Taufan
Cikarang, 17 Februari 2009

Cerpen

Sorot Mata
Oleh: M Taufan

1/
Orang yang kupanggil lewat telepon itu begitu girang saat kukabarkan bahwa dirinya diterima bekerja di perusahaan dimana aku bekerja.

Aku tahu, sebelum ini dia memanggul beban yang berat. Sebagai seorang lelaki dia memiliki tanggung jawab menafkahi anak dan istrinya. Maka saat kukabarkan kepadanya bahwa dirinya layak menjadi karyawan, setidaknya aku telah meringankan beban lelaki itu sebagai kepala rumah tangga.

Aku turut bahagia. Sebab sebagai seorang lelaki aku pernah mengalami betapa bahagianya jika aku bisa bekerja dari masa menganggur yang lumayan lama.

“Kau lulus, karena selain bisa menyetir, pengalamanmu bekerja sebelumnya membuat perusahaan memilihmu.” Kataku.

Dengan memilihnya aku telah mengorbankan calon pekerja yang lain untuk tidak meloloskannya. Semoga aku tidak salah pilih.

Yang aku suka darinya adalah kepandaiannya berbicara. Dengan kelihaian berbicara seseorang telah mengangkat dirinya sendiri dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa. Itulah yang kutahu tentang ilmu retorika Aristoteles.

Maka kehadirannya adalah harapan untuk membesarkanku. Kupikir dia lelaki yang dapat membantu meloloskanku untuk meraih jabatan yang lebih tinggi dari sekarang. Jika itu terjadi maka aku dan dia akan berbagi kebahagiaan. Aku akan membahagiakan keluargaku sebagaimana dia.

2/
Aku kemudian berhadapan dengan sorot matanya. Itu adalah lubang mata yang dalam yang hampir saja tatapanku tak dapat merengkuh maksudnya. Perkenalan adalah dua tatapan yang saling bertemu untuk menggali maksud awal dari sorot mata seseorang.

Tapi kupikir dia sepadan. Sepadan, dalam artian pada akhirnya dia bisa mengerti apa yang membeku dalam lidahku. Apa yang selama ini selalu tersimpan dalam pikiran akan mendapat peraduannya.

Selama ini aku tak dapat membuka lubang kunci mulut atasanku. Dia ekspat, masih terhambat untuk bisa sekedar mengerti apa yang ingin kuutarakan demi kemajuan perusahaan. Bukan hanya persoalan bahasa. Tetapi dia cukup keras kepala untuk menerima semua pendapatku. Mungkin karena ekspat, dia tak mau dikatakan aku lebih pintar darinya. Menjadi ekspat bukankah dia telah membawa identitas kebangsaan yang terkandung dalam dirinya?. Apa jadinya jika aku sebagai seorang pribumi akan lebih pintar darinya?. Apalagi dia seorang bos. Atau memang aku tak memiliki kemampuan untuk mempengaruhinya?.

Maka aku selalu ingin membuktikan semua pendapatku benar. Tapi aku perlu seseorang untuk pembuktian itu. Orang baru ini kupikir bisa membantuku. Aku percaya pada sorot matanya, setidaknya untuk permulaan: orang ini memiliki bentuk mata yang cukup tangguh dalam menghadapi apapun.

Ternyata benar, dia mampu menyelesaikan transaksi-transaksi yang kuperintahkan kepadanya untuk menyelesaikannya. Secepat kilat dia dapat mengenal dekat para klien, tahap ini aku dapat melihat sorot matanya yang penuh daya pikat.

Keberhasilan yang membuat atasanku tertawa lebar. Dan kupikir ini adalah keberhasilanku pula.

Ternyata orang baru ini bukan sekedar pintar menciptakan transaksi. Dia dapat membantuku menjawab persoalan-persoalan kantor yang sudah bertahun-tahun tidak terjawab. Perlahan-lahan aku dapat menyelesaikannya satu persatu atas sarannya. Dengan ini pekerjaanku semakin bertambah meski gaji yang kudapatkan masih sama seperti yang dulu, setidaknya ini adalah titik awal keberhasilan.

Atasanku kembali tertawa lebar. Dan membuat aku terus bersemangat menyelesaikan masalah kantor satu demi satu. Dan dengan itu intensitas hubunganku dengannya semakin berkurang.

Kulihat ada sorot mata yang lain yang berpancar dari orang baru itu. Saat dia kepergok bersama atasanku mengitari pabrik, para operator, dan mesin produksi. Sesuatu yang sering kulakukan sebelum sibuk seperti sekarang. Dalam sorot matanya kulihat pancaran siasat yang licik. Apa aku tidak salah memilihnya sebagai bawahanku?.

Kemampuannya berbicara dapat mempengaruhi bosku dalam menyelesaikan masalah-masalah yang lain.

3/
Akhirnya kami duduk dalam satu meja. Atasanku, Orang baru itu, dan aku. Ini adalah momentum yang aku tunggu-tunggu. Pasti atasanku akan mengumumkan pengangkatanku sebagai seorang manajer.

Kami bersulang dengan bir, seperti yang biasa dilakukan oleh para eksekutif muda saat merayakan keberhasilan.

Maka saat itu adalah paling menentukan hidupku. Atasanku memilih Hendrikus orang baru itu sebagai seorang manajer baru. Dan aku hanya menjadi bulan-bulanan euphoria mereka saja.

Aku seperti dipaksa menangkap bintang diangkasa bersama bir yang sudah aku tenggak. Aku tak mampu mabuk, meski atasanku menginginkannya. Hanya kepalan tinju yang kulipat di dada, dengan berpura-pura turut bahagia. Apakah aku telah salah memilih orang baru itu?

“Kau tak salah memilih dia!.” Seru atasanku setengah mabuk sambil menunjuk ke muka orang baru itu. Mereka kemudian tertawa. Aku juga tertawa, pura-pura tertawa.

4/
Kalau aku menjadi manajer aku bisa membelikan rumah untuk anak istriku. Ternyata kebahagiaan Hendrikus diterima bekerja di perusahaanku tak membuat aku lebih bahagia.

Istriku murka mendengar semuanya. Bertahun-tahun mengabdi, yang didapat hanya rasa kecewa. Yang layak menjadi manajer seharusnya aku. Tetapi atasanku tak menghargai sedikitpun pilihanku terhadap orang baru itu. Ucapan tak cukup. Aku menginginkan kekuasaan. Sebagai seorang lelaki aku menginginkan kekuasaan.

“Papa harus bilang sama Mr Jay. Kalau tidak Papa akan terus disepelekan. Coba takut-takuti dengan pengunduran diri, kalau memang dibutuhkan dia akan takut kehilanganmu.” Kata istriku disuatu malam sambil melipat pakaian seragam anakku, setelah disetrikanya.

Kata-kata itu terus mengiang ditelingaku. Kupikir benar apa kata istriku, kekuasaan adalah hak semua orang.

Maka kusampaikan apa yang menjadi keinginanku. Tapi Mr Jay tak mau terima, dan jika itu pilihannya mundur, dia menyarankanku untuk mundur saja. kali ini ucapan bukan lagi retorika. Ucapan kali ini adalah bumerang yang dapat menyayat lidah sendiri. Begitu sakit.

Hendrikus berhasil menjadi kaki tangan Mr Jay kepadaku dia berkata, “hati-hati dengan bicara. Bicara harus singkron dengan pikiran.”

Pikiran Yang bagaimana?.
“perusahaan tidak membutuhkan pekerja, tapi pekerja yang membutuhkan perusahaan.” Lanjut Hendrikus.

Aku mendebat, Karyawan dan perusahaan sama-sama saling membutuhkan. Tapi dia menimpal, “kamu keluar besok juga sudah ada penggantinya, di belakanmu beribu-ribu manusia mengantre untuk mendapatkan pekerjaan.”

Mr Jay merasa dibela. Senyumnya sinis dimataku. Lalu aku memperhatikan dan baru sadar bahwa mata Mr Jay dan Hendrikus sama-sama memiliki mata yang sipit. Sama-sama memiliki sorot mata yang licik. Apa karena persoalan bentuk mata Mr Jay lebih memilih Hendrikus daripada aku?

“Aku salah telah memilihmu Hendrikus!.” Kataku dalam hati. Dan karena merasa ditelikung aku memilih mengundurkan diri. Perebutan kekuasaan memang selalu menyakitkan. Tapi rasa sakit selalu membuat orang sepertiku ingin memuntahkan amarah dari luka-luka kecil yang selama ini terbendung.

Saat itu entah mengapa aku mulai mengorek informasi. Dari sopir pribadi atasanku tentang apa-apa yang biasa dikerjakan atasanku sekarang.

“Pada malam hari dari bar biasanya mereka akan menuju lounge di sudut kota, atau bermain biliar sampai pagi.”

“bar mana?.” Tanyaku.
“…”
Ah, itu nama bar yang biasa aku datangi bersama klien saat Hendrikus belum genap menjadi kaki tangan atasanku.

Entah apa yang akan aku lakukan. Yang jelas aku merasa marah dengan apa yang mereka lakukan. Mereka berbahagia dari transaksi-transaksi besar yang aku ciptakan baik melalui tangan Hendrikus maupun diriku sendiri.

5/
Di persimpangan jalan, di muka sebuah bar pistolku menanti dua orang yang ingin kuhabisi. Masih ada kesempatan untuk mempertimbangkan bagaimana aku dapat menunjukan sorot mataku yang lebih hebat dari mereka. Mata bulat yang memuat dendam dan rasa sakit selama bertahun-tahun.

Pukul 23.30 pada arlojiku. Tuhan dimana?. Tuhan seperti tukang pembuat arloji yang telah membiarkan ciptaannya bergerak sendiri.

Sementara aku masih mengintai mereka dalam suka cita bersama para klien di balik jendela yang sudah lama berkabut. Sejenak terdiam memangku dagu, tak jauh dari bar laju kendaraan dan stopan lampu merah masih menandakan denyut kehidupan perkotaan. Apa maksudnya semua ini?

Dunia seperti tak pernah tidur. Ada yang resah dan bahagia, semua terjaga. Dimana kebahagiaan sebenarnya?, jika orang-orang masih menikmatinya dalam keterjagaan.

Aku ingin terlelap. Tapi tugas belum di selesaikan…
Dan malam semakin larut.
***

Cikarang, 17 Maret 2010
dimuat di Harian Umum Berita Pagi
Sumatera Selatan

PUISI

Transaksi

1/
Seorang Tukang Ojek
membeli sebatang rokok pada pedagang asongan

Untuk dagangannya,
Pengasong membeli rokok di kios Pak Godi
Pak Godi membeli rokok di warung Pak karsa
Pak Karsa membeli rokok di jongko Pak Ikhlas
Pak Ikhlas membeli rokok di glosir Pak Jumadi
Pak Jumadi memesan rokok ke pabrik

2/
Saya membeli rokok di swalayan
Swalayan memesan rokok ke pabrik

2009

Puisi

Suicide Mentalizm

Aku mengejar bayangmu, yang semakin cepat meninggalkanku. Pada sebuah lorong sempit, berlumut dan bau busuk. Semakin kau jauh melangkah, jejak sejarah itu kemudian hilang, detik demi detik.

Kecepatan sering menciptakan lupa. Aku adalah bayang-bayang kelupaanmu. Terlalu lama kau berdiam diri dalam hasrat ejamu. Terlalu lama kau terjebak dalam gairahmu. Terlalu lama kau simpan rohmu sendiri pada semesta. Terlalu lama kau takluk pada kekuasaanmu sendiri.

Lalu kau melakukan apa yang sudah aku lakukan: Membunuh dirimu sendiri dengan lupa. Membunuh dirimu sendiri, seolah tubuhmu adalah keabadian.

Lutung

Dari jejak ranting-ranting tempat Guruminda menjatuhkan takdirnya. Hanya kau yang dapat mengerti tatapku. Hanya kau yang tahu hakikatnya cinta. Kau perempuan paling perempuan dimataku: tak menyandingkan cinta sebagai tanda adidaya bentuk.

Kau menguatkanku, saat kelembutanmu menguatkan kehendak kuasa pada ujung-ujung rambutmu, wahai purbasari.

Mungkin benar semua lelaki berasal dari lutung. Dan kau telah melahirkannya: lihatlah lelaki monyet ini telah membentangkan telaga, mengembalikan wujud asalku ketempat semula, sebagai perempuan paling perempuan: menyukai sajak yang telah menyihir Cristian de Novet menjadi lelaki berpendidikan, menenggelamkan Sreno pada cinta terpendam. Mengagungkan rokisan seperti Dewinagawati memesona Barjah.